Beritatrends,Magetan – Magetan Siapa yang tidak heran? Siapa yang tidak geleng-geleng kepala? Magetan, wilayah yang posisinya bertengger di ketinggian, berhawa sejuk, dan dikenal sebagai daerah pegunungan, kini justru menjadi langganan banjir setiap kali langit menumpahkan air.
Secara logika alam, air itu mengalir ke bawah, bukan ke atas. Lantas, bagaimana mungkin daerah yang tinggi justru kebanjiran?
Ini bukan sekadar bencana alam, ini adalah bencana kelalaian dan kebodohan dalam merencanakan masa depan.
Fakta di lapangan sangat menyakitkan. Pertambahan penduduk memang tak bisa dibendung, pembangunan rumah dan gedung menjamur bak jamur di musim hujan.
Tapi pertanyaannya, Apakah kemajuan harus dibayar dengan harga mahal berupa kerusakan lingkungan?
Tampaknya, dalam pembangunan di Magetan, yang diutamakan hanyalah aspek materi dan ekonomi, sementara hukum alam diinjak-injak.
Lahan terbuka yang seharusnya menjadi paru-paru penyerap air, kini tertutup rapat oleh beton dan tembok. Saluran air yang semestinya lebar dan dalam, kini menyempit karena digorong oleh bangunan liar.
Akibatnya? Saat hujan turun, air tak punya tempat untuk pergi selain meluap ke jalan raya, masuk ke rumah warga, dan menerjang apa saja yang ada di depannya.
Namun, akar masalahnya bukan hanya pada warga, melainkan juga pada kebijakan pemerintah yang keliru.
Sangat ironis ketika kita melihat sejarah. Di zaman penjajahan Belanda pun, para penguasa saat itu punya visi yang jauh lebih jernih dan peduli pada tata kelola air.
Mereka membangun sistem drainase besar yang dikenal dengan nama Kali Apur. Saluran raksasa ini didesain khusus sebagai jalan keluar utama untuk menampung dan mengalirkan air saat curah hujan melimpah. Itu adalah bukti nyata bahwa zaman dulu pun mereka paham betul pentingnya menjaga keseimbangan alam.
Tapi apa yang terjadi sekarang? Warisan jenius itu kini tinggal kenangan. Kali Apur yang dulu menjadi penyelamat, kini perlahan dimakan oleh pembangunan.
Fungsinya hilang, alurnya tertutup, dan berubah menjadi area pemukiman. Bagaimana mungkin air mau patuh dan mengalir lancar kalau jalannya saja sudah diblokir oleh keserakahan dan ketidakpedulian?
Pemerintah kabupaten seolah sibuk mengejar target pembangunan fisik demi pencitraan kemajuan, namun lupa bahwa pembangunan tanpa perhitungan hidrologi yang matang hanyalah bom waktu yang siap meledak. Kebijakan yang dibuat justru menjadi bumerang yang memukul balik warga sendiri.
Sudah saatnya Bupati dan Wakil Bupati Magetan berhenti bersikap biasa saja. Jangan hanya sibuk merespons saat banjir datang dengan bantuan sembako, tapi buta terhadap solusi jangka panjang.
Pemimpin harus tegas! Segera kumpulkan seluruh elemen terkait: Dinas Sumber Daya Air, Dinas Lingkungan Hidup, BBWS, PUPR, dan seluruh pakar di bidangnya. Duduk bersama, lakukan evaluasi total, dan bertindak tegas. Jangan takut tidak populer jika itu demi keselamatan bersama.
Solusinya sebenarnya sudah ada di depan mata : Kembalikan fungsi alam seperti sediakala.
Pulihkan kembali saluran irigasi dan sistem drainase sebagaimana mestinya, bahkan kembalikan kejayaan fungsi Kali Apur. Biarkan air memiliki jalan yang lebar dan lancar. Jangan biarkan air marah karena jalannya dipersempit dan ditutup.
Ingat, memimpin sebuah daerah bukan hanya soal meresmikan gedung atau jalan, tapi soal kecerdasan dalam membaca tanda-tanda alam. Jika Magetan terus dibangun tanpa memikirkan tempat air mengalir, maka jangan heran jika suatu saat Magetan bukan lagi daerah pegunungan yang asri, melainkan danau buatan karena ulah tangan sendiri. (Lilik Abdi Kusuma)





