BUNDA LISDYARITA
BeritaTrends, Ponorogo – Menjadi pemimpin bukan sekadar memegang kemenangan, melainkan mengelola amanah dengan hati yang luas. Itulah prinsip yang dipegang Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita, saat ini.
Banyak yang bertanya, apakah relawan dan pendukung setia kini mulai terpinggirkan? Lisdyarita menegaskan, hal itu tidak pernah terjadi. Ia justru sedang mengubah cara pandang: dari fase perjuangan merebut suara, kini beralih ke fase mengelola pemerintahan untuk seluruh masyarakat.
Tantangan Berat di Balik Jabatan
Menjabat sebagai Pelaksana Tugas bukanlah hal mudah. Lisdyarita memikul tiga beban besar sekaligus: memimpin tanpa didampingi Wakil Bupati, melakukan konsolidasi di masa transisi, serta menata birokrasi agar lebih efisien.
Dalam situasi ini, merangkul semua pihak—termasuk mereka yang dulu berbeda pandangan—bukan berarti mengkhianati kawan lama. Itu adalah keharusan. Sebab, pemerintahan bukan milik kelompok tertentu, melainkan “rumah bersama” bagi seluruh warga Ponorogo.
Merangkul Bukan Melupakan
Politik tidak bisa dilihat hitam putih. Mengajak semua elemen bangsa bersatu justru tanda kedewasaan kepemimpinan. Lisdyarita tidak melupakan jasa relawan yang telah bekerja tanpa lelah, tanpa imbalan, demi kemenangan.
Peran mereka kini bergeser. Dari barisan depan kampanye, kini mereka menjadi penjaga arah dan kompas moral agar pemerintahan tidak kehilangan jalan. Kontribusi mereka tetap dihargai, didengar, dan ditempatkan dalam sistem, bukan sekadar retorika.
Ibu bagi Seluruh Warga
Layaknya seorang ibu yang tidak membeda-bedakan anak, Lisdyarita hadir untuk semua. Ia ingin membangun jembatan, bukan jurang pemisah.
“Kemenangan sejati tidak berhenti saat hasil diumumkan, tapi baru dimulai saat amanah dijalankan,” tegasnya.
Bagi Lisdyarita, ia tidak meninggalkan siapa pun. Ia justru berjalan lebih jauh, membawa serta kepercayaan semua pihak demi Ponorogo yang lebih baik dan inklusif.





