Ketika Pejabat Kenyang AC, Tapi Rakyat Kenyang Janji

Beritatrends,Magetan – Menggugat Mantra “Kabeh Tumandang” Menjadi “Kabeh Madhang”Magetan selama ini dibuai mantra sakti: “Magetan Kumandhang yen Kabeh Tumandang.”Sebuah filosofi yang menyuruh warga bahu-membahu membangun daerah. Namun, setelah bertahun-tahun rakyat dipaksa tumandang (bekerja keras), kenapa yang kumandhang (bergema) justru suara perut keroncongan warga, sementara suara denting sendok dan garpu hanya terdengar dari balik dinding hotel berbintang?Mari kita bicara jujur. Pejabat kita sangat hobi membahas “Strategi Pengentasan Kemiskinan” di dalam ruang pertemuan hotel mewah yang AC-nya sedingin es puncak Lawu. Di sana, kemiskinan dibedah dengan presentasi PowerPoint estetik, ditemani kudapan mahal yang harganya setara jatah makan buruh tani tiga hari. Mereka tampak ahli menggunakan “Teori Osmosis Birokrasi”: sebuah keyakinan meleset bahwa jika pejabatnya sudah kenyang dan dingin di dalam hotel, maka hawa kenyang itu akan merembes melalui tembok beton dan menular otomatis ke perut rakyat di luar. Nyatanya? Yang merembes ke rakyat hanyalah air banjir yang saban tahun gagal diatasi karena drainase kalah cepat dibanding kepentingan proyek.Filosofi Tumandang telah gagal karena porsinya tidak adil. Sudah saatnya kita ganti menjadi: “Magetan Kumandhang yen Kabeh Madhang.”Kenapa filosofi Madhang (makan) ini lebih jujur? Karena realitas di Magetan saat ini sungguh ironis: Bansos “Salah Kamar”: Distribusi bantuan sosial kita sepertinya menggunakan “Teori Blind-Date”; yang butuh tidak dapat, yang punya mobil malah terdaftar. Akibatnya, rakyat yang benar-benar lapar dipaksa “bermesraan” dengan Bank Cuil (rentenir) demi menyambung hidup, sementara pejabat sibuk memvalidasi data sambil ngopi cantik di ruangan dingin. Pendidikan Rasa Pajak: Di saat perut sulit diisi, orang tua siswa masih harus tumandangmelunasi tarikan sekolah yang judulnya “sumbangan” tapi rasanya “mencekik”. Bagaimana mau madhang enak kalau uang belanja habis untuk menebus seragam dan iuran gedung yang tak kunjung usai? Pembangunan vs Banjir: Kita bangga dengan proyek fisik yang kinclong, tapi gagap saat air meluap. Rakyat disuruh kerja bakti (tumandang) membersihkan selokan, sementara kebijakan hulu hingga hilir seringkali menabrak logika lingkungan demi segelintir elit.”Kabeh Madhang” adalah tuntutan akan pemerataan. Jangan sampai yang kumandhang hanya suara tawa pejabat di hotel, sementara di gang-gang sempit, suara yang terdengar hanyalah decak kagum melihat kemewahan yang tak tergapai. Pembangunan sejati bukan tentang seberapa megah monumen yang dibangun, tapi seberapa adil nasi dibagi.Pemerintah Kabupaten Magetan harus sadar: rakyat tidak bisa memakan aspal yang halus, dan tidak bisa kenyang hanya dengan melihat taman kota yang estetik. Jika kebijakan publik masih berpihak pada kroni dan membiarkan rakyat terjerat hutang serta tarikan sekolah yang mencekik, maka jangan salahkan jika rakyat berhenti tumandang.Magetan hanya akan benar-benar “menggema” jika piring di meja warga tak lagi kosong. Karena sehebat apa pun sebuah daerah, ia akan runtuh jika para pejabatnya kenyang sementara rakyatnya hanya disuruh bekerja tanpa pernah diajak makan bersama.Magetan Kumandhang? Pastikan kabeh wis madhang! (RUGOS)

Baca Juga  Ketika Rumah Sakit Menjadi Pasar, Siapa Mengawasi ?

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *