Pimpinan Serta Kepala OPD Magetan Akan Terbang ke Jakarta Halal Bihalal

Oleh Lilik Abdi Kusuma

Ragkuman obrolan warung kopi masyarakat kecil tanpa tedeng aling-aling, kelihatan asal nyeplos kalau dicermati ada benernya

BeritaTrends, Magetan – Wacana kehadiran jajaran pejabat tinggi Pemerintah Kabupaten Magetan dalam acara Halal Bihalal Warga PAWITANDIROGO yang akan digelar di Jakarta pada tanggal 17 April 2026 mendatang, seolah menjadi bom waktu yang memicu gelombang kritik pedas dari berbagai kalangan.

Bukan karena acara tersebut dilarang, melainkan karena pertanyaan besar yang menggantung di benak masyarakat : “Apakah ini benar-benar mendesak dan menjadi prioritas utama?”

Halal bihalal memang tradisi yang sangat mulia. Momentum ini menjadi wadah untuk saling memaafkan, mempererat tali persaudaraan, dan memperkuat silaturahmi antar sesama umat beragama pasca menjalankan ibadah puasa.

Nilai spiritual dan sosialnya tidak bisa dipungkiri. Namun, logika politik dan tata kelola pemerintahan seolah terbalik ketika para pemimpin daerah harus rela menempuh perjalanan ratusan kilometer, meninggalkan wilayah kerjanya, hanya demi hadir dalam sebuah acara seremonial di ibu kota.

Masih Menghantui, Pejabat Justru Liburan ke Jakarta?

Kritikan ini semakin tajam dan menyakitkan jika dikaitkan dengan kondisi riil di lapangan. Belum lama ini, Kabupaten Magetan diguncang oleh bencana banjir tahunan dititik itu itu saja seolah olah seperti tamu yang diundang.

Ketika Air meluap, merendam jalan, serta membuat perekonomian warga tersendat. Sampai saat ini pun, bayang-bayang dampak bencana itu masih terasa.  Masyakat berjuang memulihkan ekonomi keluarga.

Ironisnya, di saat rakyat masih berjuang keras bangkit dari keterpurukan, justru muncul kabar bahwa para pemimpin mereka berencana “terbang” ke Jakarta untuk acara silaturahmi.

Publik pun bertanya-tanya, di mana letak kepekaan sosial mereka? Apakah hati para pejabat tidak tergerak untuk tetap berada di tengah rakyat yang sedang menderita, alih-alih pergi ke tempat yang jauh lebih nyaman dan jauh dari masalah?

Baca Juga  Karung Kejahatan Akan Sirna Ketika Ditumpas Sampai Akar-Akarnya

Masyarakat merasa diabaikan. Bayangan yang muncul bukanlah sosok pemimpin yang solutif, melainkan pemimpin yang lebih mementingkan gengsi, pencitraan, dan urusan seremonial daripada urusan dapur dan keselamatan rakyatnya sendiri.

Anggaran Miliaran Rupiah, Untuk Apa Saja Sebenarnya?

Selain soal kepekaan hati, persoalan yang paling “menohok” dan menjadi sorotan tajam adalah soal anggaran. Perjalanan dinas rombongan pejabat dari Magetan ke Jakarta tentu bukan perkara sepele. Ada biaya transportasi, akomodasi hotel, uang saku, konsumsi, hingga biaya operasional lainnya yang nilainya tidak sedikit. Angka yang dihabiskan untuk satu kali perjalanan ini bisa mencapai jutaan bahkan puluhan juta rupiah.

Pertanyaannya mendasar: Dari mana uang itu berasal? Tentu saja dari uang rakyat, dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang seharusnya digunakan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan umum.

Publik menuntut transparansi. Berapa total biaya yang akan digelontorkan untuk perjalanan ini? Apa output atau hasil nyata yang akan didapatkan oleh Kabupaten Magetan setelah acara ini selesai? Apakah ada investasi yang masuk? Apakah ada bantuan pembangunan? Atau jangan-jangan, uang rakyat habis hanya untuk makan, minum, dan foto bersama saja?

Banyak pihak menilai, dana sebesar itu jauh lebih bijak jika dialihkan untuk penanganan pasca-banjir, perbaikan infrastruktur jalan yang rusak parah, bantuan sosial bagi korban bencana, atau bahkan untuk menambah anggaran kesehatan dan pendidikan. Mengorbankan kebutuhan mendesak rakyat demi sebuah acara kumpul-kumpul dianggap sebagai pemborosan yang sangat tidak bertanggung jawab.

Silaturahmi Bukan Alasan untuk Mengabaikan Tugas

Memang tidak ada yang melarang pejabat untuk bersilaturahmi. Namun, ada prinsip yang disebut right person on the right place and right time (orang yang tepat di tempat yang tepat dan waktu yang tepat).

Baca Juga  Pancasila dan Tantangan Zaman : Refleksi Hari Kesaktian 1 Oktober 2025

Apakah acara ini harus dihadiri oleh seluruh jajaran pimpinan daerah? Apakah tidak bisa diwakili oleh staf atau kepala dinas terkait saja? Atau bahkan, apakah momen silaturahmi ini tidak bisa dibalik? Kenapa tidak warga PAWITANDIROGO di Jakarta yang datang berkunjung ke Magetan, sehingga sekaligus bisa mempromosikan pariwisata dan ekonomi daerah?

Pertanyaan-pertanyaan ini terus bergema. Masyarakat merasa kecewa karena seolah-olah prioritas pembangunan sudah tertukar. Yang seharusnya diperhatikan justru dikesampingkan, yang seharusnya menjadi urusan sekunder justru diangkat menjadi prioritas utama.

Harapan Rakyat: Tolak Perjalanan, Fokus Tangani Masalah!

Hingga berita ini diturunkan, masyarakat luas berharap agar Pemerintah Kabupaten Magetan dapat berpikir ulang dan lebih bijak dalam mengambil keputusan. Tolaklah rencana perjalanan yang tidak mendesak ini. Gunakan waktu, tenaga, dan anggaran yang ada untuk hal-hal yang benar-benar nyata manfaatnya bagi warga Magetan.

Rakyat tidak butuh pejabat yang pandai bersalaman dan berfoto di acara mewah. Rakyat butuh pemimpin yang hadir saat hujan deras, yang ada saat banjir datang, dan yang bekerja keras memastikan perut mereka terisi serta masa depan mereka terjamin.

Jangan sampai, kehadiran di Jakarta justru menjadi bukti ketidakhadiran hati nurani di Magetan. Ingatlah, jabatan itu titipan, dan rakyat adalah pemiliknya yang sesungguhnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *