Beritatrends,Magetan – Tulisan di Beritatrends tersebut bukan sekadar kritik; itu adalah alarm keras yang membongkar tabir kegagalan tata ruang di Magetan. Forum Rumah Kita (FRK) memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas keberanian penulis dalam membedah paradoks geografis Magetan: daerah pegunungan yang kini justru menjadi “akomodasi” bagi banjir.Ada beberapa poin fundamental yang harus kita garis bawahi sebagai bahan evaluasi total bagi Pemerintah Kabupaten Magetan:
1. RUNTUHNYA MITOS “PEMERINTAH SELALU BENAR”Selama ini, kebijakan sering kali dianggap sebagai “kebenaran mutlak” hanya karena ia lahir dari meja birokrasi. Namun, fakta menghilangnya fungsi Kali Apur dan rusaknya sistem drainase warisan sejarah demi pembangunan gedung-gedung beton membuktikan bahwa pemerintah bisa sangat keliru dalam merencanakan, membuat, dan mengeksekusi program.Pesan FRK: Pembangunan tanpa perhitungan hidrologi adalah “pembangunan buta”. Ketika pemerintah lebih memilih mengejar target fisik demi pencitraan namun mengabaikan hukum alam, saat itulah pemimpin sedang menanam bom waktu untuk warganya sendiri.
2. KEHILANGAN VISI: DARI PERENCANA MENJADI PEMADAM KEBAKARANSangat menyakitkan melihat bagaimana sistem drainase jenius masa lalu dikalahkan oleh keserakahan masa kini. Respons pemerintah yang hanya muncul dengan “paket sembako” saat banjir terjadi menunjukkan pola pikir Reaktif, bukan Preventif. Kritik FRK: Pemimpin tidak dipilih hanya untuk membagikan mi instan saat rakyat kebanjiran, tetapi untuk memastikan rakyat tidak perlu kebanjiran sejak awal. Mengabaikan normalisasi saluran primer dan membiarkan alih fungsi lahan adalah bentuk pengkhianatan terhadap mandat keselamatan publik.
3. VITALNYA PARTISIPASI MASYARAKAT: RAKYAT BUKAN OBJEKTulisan ini membuka mata kita bahwa peran masyarakat bukan hanya sebagai penonton atau pembayar iuran. Masyarakat adalah pengawas garis depan. Visi FRK: Kebijakan lingkungan yang tidak melibatkan partisipasi masyarakat secara bermakna (bukan sekadar formalitas) akan selalu berujung pada kegagalan. Rakyat adalah yang paling tahu di mana air mulai tersumbat dan di mana tambang mulai merusak. Mengabaikan suara warga dalam penyusunan Amdal dan tata ruang adalah resep menuju bencana ekologis.
4. SOLUSI KONTRADIKTIF: MENANAM DI ATAS LUKAFRK kembali menegaskan poin dalam tulisan tersebut: Apa gunanya seremoni menanam pohon jika di saat yang sama saluran air dibiarkan menyempit dan lubang tambang dibiarkan menganga? Ini adalah “Gincu Lingkungan” yang hanya mempercantik tampilan luar sementara fondasi ekologisnya sudah hancur.
PERNYATAAN SIKAP FORUM RUMAH KITA (FRK):Kami meminta Bupati dan jajaran OPD terkait (PUPR, DLH, Disperindag dan OPD terkait lainya) untuk tidak sekadar membaca tulisan ini sebagai angin lalu. FRK menuntut:1. 2. 3. Audit Tata Ruang Segera: Kembalikan fungsi Kali Apur dan seluruh saluran irigasi yang telah tertutup bangunan.Transparansi Anggaran Normalisasi: Jangan jadikan dana darurat banjir sebagai “pemadam kebakaran” tahunan tanpa adanya proyek normalisasi permanen yang transparan.Pelibatan Publik yang Berdaulat: Hentikan gaya komunikasi satu arah. Pemerintah harus duduk bersama pakar dan elemen masyarakat (seperti FRK) untuk menyusun MasterplanDrainase Magetan yang jujur dan berjangka panjang.Kesimpulan: Pemerintah harus sadar bahwa air tidak butuh janji politik, air hanya butuh jalan untuk mengalir. Jika jalan itu terus disumbat oleh kebijakan yang keliru dan ketidakpedulian, maka jangan salahkan alam jika ia “bertamu” ke dalam rumah kita tanpa permisi.Magetan Kumandhang, Integritas Tanpa Kompromi!Salam Perubahan, FORUM RUMAH KITA (FRK)





