Ironi Telur Magetan Ketika Suro, Sepi Hajatan, tapi Harga Pasar Malah Anjlok ​

ilustrasi jalannya penjualan telor saat lesu permintaan

 

BeritaTrends, Magetan — Pasar boleh sepi, tapi aturan main tidak boleh mati. Itulah jeritan terselubung dari balik dinding-dinding kandang ayam ras di Magetan selama sebulan terakhir. Para peternak ayam petelur kini tengah diuji oleh dua “hantu” musiman : siklus tradisi Jawa dan kalender akademik.

Masuknya bulan Suro dan Selo dalam penanggalan Jawa secara otomatis mengerem ritual hajatan atau mantuan. Sepinya pesta pernikahan ini diperparah dengan berhentinya produksi Dapur SPPG, ditambah momentum tahun ajaran baru sekolah. Alih-alih membeli telur, para orang tua saat ini kompak mengencangkan ikat pinggang demi seragam dan buku baru anak-anak mereka.

Stok telur di kandang pun menumpuk, tak bisa bergerak. Namun, di tengah lesunya daya beli, muncul fenomena yang lebih meresahkan aksi banting harga sepihak oleh oknum pedagang yang nekat menabrak harga kesepakatan asosiasi.

Aksi potong kompas ini jelas menjadi tamparan keras baik bagi pemerintah yang terkesan lambat mengawasi stabilitas, maupun bagi para pedagang nakal yang tega menjatuhkan harga demi untung pribadi tanpa memikirkan nasib peternak yang berdarah-darah di hulu.​Sentilan untuk yang Suka Main Hakim Sendiri Soal Harga

Di tengah carut-marut tersebut, Tiara, salah satu pedagang telur di wilayah Ringin Agung, Magetan, memilih jalan ninja yang berbeda. Ia tetap setia berdiri di barisan Asosiasi Peternak Magetan Sumber Kelapa.

“Jujur, kami selama ini menjual telur sesuai harga Asosiasi. Harga kandang hari ini sudah mencapai Rp22.000/kg. Kami sebagai pedagang mengambil untung sewajarnya jual eceran Rp24.000/kg dan Rp23.000/kg untuk pengambilan petian,” tegas Tiara.

Menariknya, di saat pedagang lain merusak pasar dengan harga murah (yang disinyalir menggunakan telur stok lama atau telur kawak), Tiara justru kerap diprotes pembeli karena dinilai menjual terlalu mahal.

Baca Juga  Peringati Hari Bhayangkara Ke 77 Tahun 2023, Kasetukpa Menjadi Irup Di Lapangan Merdeka Kota Sukabumi

Menanggapi keluhan tersebut, Tiara memberikan jawaban menohok yang menggelitik, “Monggo, silakan cari yang lebih murah, kita enggak apa-apa kok.”

Kualitas Tak Bisa Bohong, Sindiran Tiara bukan sekadar gertakan sambal. Hukum pasar yang sehat akhirnya membuktikan diri. Meski sempat diprotes, lapak Tiara tetap diserbu pembeli.

“Tapi anehnya, kok tetap beli ke kita? Saya juga heran. Jujur, telur di tempat kami selalu fresh (segar), tidak ada telur kawak (stok lama),” pungkas Tiara sambil tersenyum.

Catatan Merah untuk Pemerintah dan Pasar,
Kisah dari Ringin Agung ini adalah alarm keras. Ketika asosiasi sudah menetapkan batas aman agar peternak tidak gulung tikar, kehadiran pedagang yang menjatuhkan harga secara ilegal adalah parasit bagi ekosistem pangan. Pemerintah daerah tidak boleh menutup mata. Jika pengawasan pasar loyo, jangan salahkan jika besok-besok peternak Magetan memilih mogok bertelur.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *