Meskipun Dalam Tahanan KPK, Sosoknya Tetap Menginjak Di Hati Rakyat, Dukungan Berdatangan Berupa Tanda Tangan dan Cap Jempol Bertanda Darah
BeritaTrends, Madiun – Udara pagi Sabtu (24 Januari 2026) di sekitar Pahlawan Religi Center (PRC) terasa berbeda. Tak hanya dipenuhi oleh hembusan angin sepoi-sepoi dari arah alun-alun kota, namun juga oleh suasana yang penuh emosi dan kebersamaan. Ribuan warga masyarakat dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, pedagang kecil, hingga lansia, berkumpul dengan satu tujuan yang sama : menunjukkan bahwa mereka tidak pernah meninggalkan Pak Maidi, meskipun kini sosok yang mereka hormati sedang berada di bawah tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Aksi yang diberi tema “Kain Putih untuk Pak Maidi” ini tidak hanya menghiasi halaman depan PRC dengan hamparan kain putih yang luas seperti lautan kesucian, tetapi juga menjadikan setiap sudut jalan raya menuju lokasi tersebut dipenuhi karangan bunga berwarna putih dan merah muda. Setiap karangan bunga dipasang dengan papan tulis yang penuh dengan pesan hangat, mulai dari Kita Percaya Pada Anda Pak Maidi hingga, Rakyat Selalu Bersamamu.

Tak berhenti sampai di situ, sejumlah warga bahkan datang dengan persiapan khusus : mereka membawa alat untuk mencatat tanda tangan dukungan dan juga wadah kecil untuk mengambil setetes darah dari ibu jari mereka, yang kemudian akan dicap sebagai bentuk komitmen yang tak tergoyahkan.
Banyak di antara mereka yang mengaku rela melakukan hal tersebut karena yakin bahwa Pak Maidi telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan daerah dan kesejahteraan masyarakat.
“Sudah bertahun-tahun Pak Maidi berdampingan dengan kita. Ketika kita kesusahan, dia yang selalu ada untuk membantu membangun pasar baru, memperbaiki jalan desa, dan mengurus pendidikan anak-anak kita. Sekarang dia sedang menghadapi cobaan, bagaimana mungkin kita bisa tinggal diam?” ujar Budi WKR, salah satu koordinator pendukung yang telah mengatur aksi ini sejak seminggu yang lalu, dengan mata yang sedikit memerah karena emosi.

Menurut Budi, ide untuk menggelar aksi ini muncul setelah mereka mengetahui bahwa proses hukum terhadap Pak Maidi sedang berjalan. Banyak warga yang datang secara sukarela tanpa perlu dipanggil berkali-kali.
Bahkan beberapa orang yang tinggal di luar kota Madiun, seperti dari Kabupaten Magetan dan Ngawi rela melakukan perjalanan jauh hanya untuk ikut serta dalam aksi dukungan ini.
“Kita tidak bermaksud untuk menghalangi proses hukum yang sedang berjalan. Kami juga menghormati peran KPK sebagai lembaga penegak hukum. Namun, kami ingin agar para penyidik dan seluruh jajaran KPK tahu bahwa Pak Maidi bukan hanya sosok yang sedang dalam proses hukum, tetapi juga sosok yang dicintai dan dihormati oleh banyak orang. Semoga dalam setiap langkah prosesnya, keadilan bisa benar-benar ditegakkan dengan memperhatikan sisi kemanusiaan,” jelas Budi sambil menyeka keringat yang mengalir di dahinya.

Suasana semakin mengharukan ketika salah seorang lansia bernama Mbok Tun (67 tahun) naik ke atas panggung sederhana yang telah disiapkan. Dengan suara yang sedikit menggigil namun penuh keyakinan, ia bercerita tentang bagaimana Pak Maidi pernah membantu keluarganya ketika putranya sakit parah dan tidak memiliki biaya untuk berobat.
“Tanpa bantuan Pak Maidi, mungkin putra saya sudah tidak ada di dunia ini. Untuk itu, saya rela datang kesini walau kaki saya sudah tidak sekuat dulu,” ujar Mbok Tun sambil menunjukkan cap jempol darah di telapak tangannya.
Tak hanya dari kalangan masyarakat awam, sejumlah tokoh masyarakat lokal juga turut menyampaikan dukungannya secara tidak langsung. Mereka mengaku mengikuti perkembangan situasi Pak Maidi dengan cermat dan berharap bahwa proses hukum yang berjalan akan memberikan kejelasan yang benar-benar adil.
Sebagian besar peserta aksi juga membawa buku catatan yang akan diisi tanda tangan dukungan dari seluruh warga yang berpartisipasi. Rencana mereka, buku tersebut beserta dengan hasil cap jempol darah akan diserahkan kepada pihak terkait sebagai bukti bahwa hati masyarakat masih terpaut erat dengan Pak Maidi.
“Saya berharap para penegak hukum khususnya KPK bisa melihat betapa dalamnya cinta masyarakat terhadap Pak Maidi.
Semoga ini menjadi salah satu pertimbangan bahwa setiap langkah yang diambil harus berdasarkan pada kebenaran yang sesungguhnya, bukan hanya pada dugaan semata,” tutup Budi dengan harapan yang terpancar jelas dari wajahnya.
Di tengah derasnya hujan dukungan yang datang dari berbagai penjuru, tampak jelas bahwa sosok Pak Maidi telah mencetak jejak yang tak terhapuskan di hati masyarakat Madiun.
Aksi ini bukan hanya menjadi bentuk ekspresi cinta, tetapi juga sebagai pengingat bahwa hubungan antara pemimpin dan rakyat bukanlah sesuatu yang bisa mudah patah meskipun dihadapkan pada badai ujian.





