Ngopi Bareng Bunda Nanik, Unesa Minta Hibah di Tengah Kota, Padahal Maospati Belum Tuntas, Magetan Mau Dibawa Kemana?  

 

 

Beritatrends.co.id, Magetan — Suasana hangat terasa di meja percakapan itu. Bupati Magetan, Hj. Nanik Sumantri yang akrab disapa Bunda Nanik, duduk sama rata dengan para aktivis di sebuah warung kopi. Bukan jamuan mewah, bukan rapat di ruang ber-AC. Cuma ngopi, ngobrol, dan menyampaikan apa yang sesungguhnya ada di hati masyarakat, Rabu (23/9/2026) yang lalu.

Namun di balik tawa dan keramahan, ada pertanyaan tajam yang tak bisa sekadar disisihkan. Salah satunya datang dari soal rencana hibah lahan untuk Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tepat di jantung kota Magetan, padahal kampus Unesa yang sudah berdiri di Maospati pun belum selesai dibangun, belum berfungsi penuh, dan belum menepati janji yang diusung sejak awal.

 

Maospati Belum Beres, Sudah Minta Lagi di Pusat Kota?

Aktivis yang menyampaikan hal ini mengangkat fakta yang patut direnungkan bersama :

Di Maospati, Unesa sudah mengantongi lahan seluas sekitar 13,5 hektar pemberian daerah, ditambah membeli sendiri sekitar 4 hektar.

Namun pembangunan yang terlihat baru mencakup 3–5 hektar saja. Belum tuntas, belum lengkap.

Lebih menyakitkan mahasiswa yang seharusnya belajar di kampus Maospati justru masih harus bolak-balik ke Surabaya. Janji 15 program studi tersedia di Maospati ternyata belum nyata. Belum siap, belum terwujud.

Dan kini, di tengah semua ketidaksempurnaan itu, muncul rencana Unesa meminta hibah lahan baru di jantung kota Magetan.

“Kalau yang di Maospati belum beres, belum maksimal, belum memenuhi janji kenapa sudah meminta tempat baru lagi di pusat kota? Magetan ini mau dibawa kemana?” begitu pertanyaan yang terlontar dari perbincangan itu, lantang dan jujur.

 

Magetan Mau Jadi Apa? Pendidikan, Wisata, atau Industri?

Baca Juga  Diana Sasa Apresiasi Kepada Pemkab Magetan Dengan Membebaskan Biaya Pengobatan Korban Laka Pohon Tumbang

Para aktivis tak sekadar protes. Mereka bertanya arah kalau Magetan ingin dikenal sebagai kota pendidikan, wisata, atau pusat industri maka kampus yang dibangun harus menyesuaikan, bukan sekadar menampung program yang ada tanpa memikirkan manfaat jangka panjang bagi warga.

Pertanyaan ini disampaikan langsung kepada Bunda Nanik. Dan tanggapan beliau cukup masuk akal, meski belum menjadi keputusan pasti.

“Magetan adalah kabupaten terkecil nomor dua di Jawa Timur. Soal hibah lahan di jantung kota itu, kemungkinan masih dipikirkan dulu. Biarkan Unesa menyelesaikan yang di Maospati sampai tuntas, sampai benar-benar berfungsi, baru kita lihat perkembangannya selanjutnya,” tandas Bupati Nanik Sumantri.

Masalah Lain yang Tak Kalah Penting Selain soal Unesa, pertemuan sore itu juga mengangkat hal-hal krusial lainnya :

PDAM Tirta Lawu Banyak bangunan menara air berdiri di atas tanah milik warga. Status tanah belum jelas, dibeli, disewa, atau bagaimana? Warga butuh kepastian. Bunda Nanik berjanji akan mengomunikasikan hal ini langsung kepada Direktur PDAM.

Lokasi Industri Kecil (LIK) 2 — Hampir 80–90% kulit di Indonesia mengalir ke Magetan. Kalau LIK 2 segera dijalankan, pendapatan asli daerah bisa naik signifikan. Padahal sejak zaman pemerintahan sebelumnya sudah ada komitmen lewat Inpres 80 tiga proyek besar pengembangan wisata Sarangan, akses tol, dan LIK 2 semuanya belum terealisasi sampai sekarang.

 

Bicara di Warung, Harus Tercermin di Kebijakan

Pertemuan ini bukan sekadar ajang berfoto bersama atau basa-basi. Suara-suara yang terdengar di meja kopi itu adalah cermin harapan sekaligus keprihatinan warga.

Masyarakat tidak menolak pembangunan. Mereka menolak pembangunan yang setengah jalan, janji yang tak ditepati, dan rencana baru yang muncul sebelum yang lama selesai tuntas.

Baca Juga  Usia 81 Tahun, Kemerdekaan Bukan Hanya Angka Tapi Persatuan Kunci Segala Hal

Pesan yang tersisa sambil Bunda Nanik berpamitan karena ada acara mendadak

Selesaikan yang sudah ada di tangan dulu. Pastikan warga menerima manfaat. Pastikan janji dijalankan. Baru berpikir untuk membuka lembaran baru.

 

“Karena Magetan bukan milik satu kelompok, bukan milik satu instansi Magetan milik warganya. Dan pembangunannya harus terasa, terlihat, dan menguntungkan rakyat banyak,” pungkas Bunda Nanik Sumantri.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *