Investor dan Perhutani MoU Akan Kelola Obyek Wisata Sarangan Sebelah Selatan Agar Tak terjadi Gerombolan di Sebelah Utara

  • Whatsapp

Beritatrends, Magetan – Dalam rangka meningkatkan layanan dan kepuasan pelanggan pada sektor pariwisata, Perum Perhutani melakukan Rebranding Wisata Alam pada objek wisata yang dikelola mandiri maupun yang dikerjasamakan dengan LMDH dan swasta.

Perum Perhutani memiliki komitmen pemberdayaan masyarakat desa hutan, perjanjian tersebut memuat hak dan kewajiban masing-masing pihak untuk bersama-sama bersinergi memanfaatkan obyek wana wisata tersebut.

Perum Perhutani berkewajiban menyediakan lahan dan mengatur strategi pengembangan pengelolaan objek wisata serta memperoleh manfaat jasa lingkungan, sedangkan pihak LMDH atau Swasta berkewajiban menjaga lingkungan dan pengamanan juga turut serta dalam merencanakan pengembangan objek wisata yang pada akhirnya dapat memperoleh manfaat ekonomi bagi masyarakat desa sekitar hutan.

Karena menggali potensi sumberdaya alam berupa wisata, dan optimalisasi hutan dan manfaat kawasan hutan yang bernilai ekonomis, ekologis dan sosial, sehingga saling menguntungkan semua pihak. Hal ini juga mendukung dengan adanya UU No. 6 tahun 2014 tentang Desa dengan memberikan peran yang sangat besar bagi pengembangan usaha dan perekonomian desa.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Magetan Joko Trianto mengatakan, info terkait ada yang akan mengelola lahan Perhutani di wilayah Telaga Sarangan merupakan upaya pengembangan Sarangan, inikan diwilayah Telaga Sarangan merupakan milik Perhutani, namun kemarin sudah ada yang memulai MOU dengan perhutani.

Tentunya Disparbud akan mengundang Steak Holder untuk bersama-sama membicarakan itu, artinya bahwa bagaimana sebuah kepentingan masyarakat, kepentingan Perhutani, kepentingan Telaga Sarangan, kepentingan pelaku jasa wisata ini bisa terakomodir semua,

“Bahwa bagaimana grend desain dari sebuah investor ini masuk, tentunya akan menjadi pencematan Disparbud bersama, untuk bersama-sama sut sained kebelanjutan dalam perlindungan pariwisata dan bagaimana kelestarian pariwisata,”jelas Joko.

Di dalam upaya penataan itu tentunya pengunjung telaga ini hampir 70% berada di sebelah utara telaga, sehingga dengan otomatis ketika pengunjung berada di sana banyak pedagang-pedang ini berkumpul disana juga, artinya mendekatkan pelayanan pada konsumen wisatawan.

“Upaya memeratakan tingkat kunjungan yang berada di Telaga Sarangan ini biar tidak terlalu bergerombol di sisi utara tentunya harus sebuah madu atau obyek wisata yang berada di sisi Selatan Telaga itulah kami berharap dalam upaya penataan itu nanti termasuk pedagang-pedakang kaki lima ini bisa di akomodir untuk mendekati madu/obyek wisata yang berada di sebalah selatan tadi dibuat menarik,”pungkas Joko.

Pos terkait