Sang Kakek dan Cucu, Siapa Sesungguhnya Yang Menuntun Ikut Acara Pesta

Opini

Ilustrasi Kakek dan Cucu

Resikonya bagi sang kakek mengajak sang cucu mengikuti acara pesta. Bukan cuma akan merepotkan, tapi juga bisa menjadi beban dan membuat masalah, justru yang harus dihindari oleh sang kakek maupun sang cucu.

Pesta yang pasti meriah ini, menyuguhkan banyak hal yang harus dihindari sang kakek. Sementara apa yang menjadi pantangan bagi sang kakek justru menjadi kegemaran sang cucu. Jadi perselisihan persepsi ini pun sudah bisa dibayangkan secara gampang dan terang. Misalnya sang cucu justru memprovokasi sang kakek untuk melahap semua suguhan yang ada, tanpa pernah mampu menseleksi apa saja yang dianggap haram atau terlarang.

Akibatnya, karena semua menu sajian dari pesta itu enak untuk dilahap, maka ancaman terhadap penyakit asam urat, jantungan dan encok serta rematik mulai kambuh. Dan sang cucu tidak bisa berbuat apa-apa, sebab setelah kenyang melahap beragam panganan yang tersisa cuma seleranya untuk bermain game atau tiktok melalui media berbasis internet yang selalu ada dalam genggamannya.

Kerepotan sang kakek mengatasi beragam penyakit yang telah lama merinding dirinya sungguh merepotkan. Begitu juga sang cucu yang lebih tidak perduli — atau lebih tepatnya tidak mengerti — soal tata kerama untuk suatu pesta. Lain ceritanya jika pesta adalah pesta demokrasi untuk keabsahan pelaksanaan Pemilu. Semua bisa diatur sesuai dengan selera sutradara yang sedang menggenggam otoritas kekuasaan dan uang. Itulah sebabnya sebagian dari kawan-kawan sepermainan jadi ogah-ogahan mengikuti hingar-bingar Pemilu yang cenderung akan gaduh bahkan rusuh.

Apalagi kemudian hasilnya sudah bisa dipastikan sebelum pelaksanaan Pemilu itu sendiri dilaksanakan. Maka itu saran yang bijak dari pengamat politik Indonesia yang sudah lebih dari 5 kali ikut Pemilu, semuanya perlu disikapi dengan cara yang santai saja. Termasuk mereka yang masih suka memberi sembako dan amplop sebagai bagian dari serangan fajar sebelum pertempuran dimulai.

Baca Juga  Stafsus Presiden Angkie Yudistia Apresiasi Kapolri Beri Peluang Difabel Jadi Polisi

Artinya sama saja dengan menonton sang kakek menuntun sang cucu — atau sebaliknya; sang cucu yang menuntun sang kakek — tak jemu-jemu juga ikutan berpesta yang selayaknya diikuti oleh mereka yang masih memenuhi syarat atau mereka yang sudah memenuhi syarat. Sebab dalam tata kerama acara pesta pun — meskipun bebas berikut rahasia — toh etika, moral dan akhlak pun tetap perlu dijaga. Artinya, hasrat untuk ikut berpesta itu jangan sampai cuma ingin melahap semua menu yang tersedia, sehingga abai pada nilai kesehatan, norma kepatutan dan kepantasan.

Karena pada akhirnya, pesta pun akan usai juga. Janganlah sampai akibatnya harus ditanggung oleh banyak orang, terutama warga masyarakat yang tak tahu apa-apa. Sebab masalah malapetaka dari sebuah pesta bukan sesuatu yang mustahil bisa terjadi dan menimbulkan masalah yang tidak kalah rumit serta mengancam banyak orang yang mungkin tak menikmati sama sekali hingar bingar pesta yang akan menimbulkan sikap jumawa. Arogan, kesombongan, ketamakan dan kerakusan yang bisa membuat penyakit bawaan jadi kumat dan mendera sampai ke ujung usia.

Pos terkait