Beritatrends.co.id, Surabaya — Mengapa peta seni rupa kontemporer Indonesia seolah hanya berputar di Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung? Lalu, di mana posisi Surabaya? Apakah kota terbesar kedua di Indonesia ini hanya menjadi penonton, atau justru sedang tumbuh menjadi salah satu medan baru seni rupa kontemporer nasional?
Pertanyaan itulah yang akan dibongkar dalam Diskusi Publik ArtSubs yang digelar di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Senin, 14 September 2026, pukul 13.00 WIB. Diskusi berlangsung di Auditorium T14 Lantai 4, Fakultas Bahasa dan Seni, Kampus Unesa Lidah Wetan, Surabaya.
Guru Besar Seni Rupa Unesa, Prof. Dr. Djuli Djatiprambudi, akan memaparkan analisis mengenai posisi Surabaya dalam peta medan seni rupa kontemporer Indonesia. Dari ArtSubs, hadir salh satu kurator Nirwan Dewanto, bersama salah satu peserta pameran dari Museum KBUSR (Kantor Bersama Urusan Seni Rupa) Yogyakarta.
Diskusi ini menjadi penting karena persoalannya bukan sekadar apakah Surabaya memiliki banyak seniman. Surabaya sudah lama memiliki seniman, komunitas, akademisi, ruang kreatif, kolektor, hingga berbagai peristiwa seni. Persoalannya adalah: apakah seluruh potensi itu telah membentuk sebuah ekosistem seni rupa yang cukup kuat untuk membuat Surabaya diperhitungkan dalam percaturan nasional?
Secara historis dan sosiologis, pemetaan seni rupa kontemporer Indonesia memang lebih sering menempatkan Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung sebagai pusat gravitasi. Padahal Surabaya dan Jawa Timur memiliki potensi artistik yang tidak kalah besar, tetapi belum sepenuhnya memperoleh infrastruktur dan ekosistem yang mampu mengangkat potensinya secara berkelanjutan.
Keterbatasan ruang seni publik, minimnya ruang kuratorial yang kritis, belum kuatnya pasar seni lokal, serta belum optimalnya jejaring antara seniman, akademisi, kurator, pemerintah, kolektor, dan publik menjadi tantangan yang harus dijawab bersama.
ArtSubs hadir di tengah persoalan tersebut.
Sejak pertama kali digelar di Pos Bloc pada 2024, kemudian di Balai Pemuda pada 2025, ArtSubs kembali hadir di Balai Pemuda Surabaya pada 19 September–8 November 2026. ArtSubs tidak hendak berhenti sebagai art fair atau pameran seni rupa semata. Ia mencoba mempertemukan daya tarik pasar seni dengan kedalaman narasi kuratorial, sekaligus membuka ruang bagi perjumpaan berbagai praktik seni, gagasan, dan publik.
Karena itu, ArtSubs bukan hanya soal karya yang dipamerkan dan transaksi yang terjadi. Lebih jauh, ia dapat dibaca sebagai upaya untuk menguji apakah Surabaya mampu membangun medan seni rupa sendiri—sebuah ruang yang bukan sekadar menjadi cabang dari pusat-pusat seni yang selama ini dominan.





