Bahasa Jawa Kromo dan normanya Yang Mulai Ditinggalkan

Ilustrasi unggah-ungguh yang masih paham Bahasa Jawa Kromo dan normanya 

Beritatrends, Magetan – Indonesia memiliki ribuan bahasa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, salah satu bahasa asli Indonesia adalah Bahasa Jawa. Dalam bahasa Jawa terdapat banyak aspek yang harus di pelajari seperti aksara Jawa, hingga jenis-jenis teksnya.

Salah satu materi bahasa Jawa yang sering di temui dalam kehidupan sehari-hari adalah pawarta. Pawarta sendiri jika dalam bahasa Indonesia berarti teks berita. Teks pawarta ini pada umumnya bertujuan untuk memberikan atau menginformasikan sebuah pesan penting kepada khalayak ramai.

Dalam pawarta sendiri memiliki beberapa aturan yang harus dicakup dalam sebuah teks berita yaitu unsur 5 W + 1 H. Maka dari itu proses pembuatan atau produksi sebuah teks pawarta juga tidak boleh sembarangan.

Hal itu tentunya karena pawarta sendiri berkaitan dengan informasi penting yang akan dikonsumsi oleh masyarakat banyak, sehingga informasi yang disampaikan harus sesuai dengan apa yang terjadi.

Menurut penjelasan salah satu pensiunan PNS di Dinas Pariwisatan dan Kebudayaan Kabupaten Magetan, Sartono menjelaskan, dulu sewaktu Pak Bupati Saleh saat itu mengintruksikan kepada seluruh OPD dan Sekolahan di Kabupaten Magetan pada hari Rabu menggunakan bahasa Jawa Kromo.

Lanjut Sartono, bahasa Jawa itu sangat luar biasa dilihat dari sisi kesopan santunan atau tata cara adat beristiadat, tidak akan ada ucapan yang tempramen, alus, andap asor serta enak didengar, sehingga tak mungkin keluar bahasa yang kasar apa lagi menyinggung perasaan lawan bicaranya.

“Kadang saya sendiri merasa menyesal melihat generasi melinial sekarang, kenapa demikian ? hal tersebut dikarenakan sekitar tahun 80 an sorang tua pada saat itu, tidak mau mengajak anaknya berbicara dengan bahasa Jawa Kromo dan saat itu orang tua merasa bangga anaknya bisa berbahasa Indonesia, padahal bahasa Indonesia apa bila tidak diajari sudah dengan sendirinya si anak pasti bisa,”papar Sartono.

Kemudian di era Tahun 90 an orang tua saat itu mulai lagi mengajak anak-anak kembali kepada bahasa Jawa Kromo, terbukti saat itu Bapak Bupati Sumantri juga meneruskan programnya Bupati Saleh, namun hal tersebut tidak sampai tuntas melakukan programnya.

“Hingga saat sekarang hampir anak sekarang tidak memahami bahasa Jawa Kromo, padahal Kabupaten Magetan itu termasuk wilayah Mataraman artinya Bahasa Jawa Kromo nya sama dengan Solo dan Jogjakarta,”ucap Sartono.

Selaku masyarakat memohon kepada pemerintah sebaiknya untuk bahasa daerah (bahasa Jawa) di Kabupaten Magetan untuk digalakkan lagi agar kedepannya anak-anak muda tetap mencintai kebudayaan daerahnya sendiri sebagi orang Jawa, jangan sampai keluar ucapan ” Wong Jowo tapi ora Jowo”

“Sekali lagi bahasa Jawa kalau menurut saya merupakan bahasa yang sangat tinggi drajatnya dengan banyaknya istilah artinya bahasa Jawa itu tidak bisa memaksa sebuah ucapan kalau didalam kamusnya tak ada, sehingga kedepanya bahasa Jawa Kromo di Magetan kedepannya biar tak asing oleh anak cucu kita kelak,”pinta Sartono.

Mengingat bahayanya buat generasi berikutnya apabila bahasa Jawa dan normanya ditinggalkan. Ada konskwensi yangg mahal buat generasi beriku.

“Ini sebuah keprihatinan bersama yangg harus mendapat perhatian ekstra dari kita semua dan bagus kalau ada sarasehan tentang hal tersebut diatas,”pungkas Sartono.

Pos terkait