Jawa Timur : Pusat Pertanian Nasional dengan Tantangan Air

Beritatrends, Ponorogo – Jawa Timur, selain dikenal sebagai lumbung padi nasional, juga menjadi tolok ukur pertanian di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan oleh Kepala Badan Standardisasi Industri Pertanian (BSIP) Jawa Timur, Dr. Atekan, saat acara panen raya padi di Desa Pondok, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo.

Dalam sambutannya, Dr. Atekan menyoroti luasnya sawah di Jawa Timur, yang mencapai 1,2 juta hektar, menjadikannya kontributor tertinggi terhadap produksi beras nasional. Meskipun begitu, tantangan utama yang dihadapi adalah masalah air, terutama di daerah Ponorogo.

Dari data yang diungkapkan, luas sawah di Kabupaten Ponorogo mencapai hampir 35 ribu hektar, dengan sebagian besar merupakan sawah tadah hujan. Menyikapi hal ini, pemerintah telah memberikan bantuan pompa air untuk mengatasi masalah irigasi dan memastikan ketersediaan air untuk lahan pertanian.

Guna mengatasi kondisi itu, sebutnya, pemerintah lewat Kementerian Pertanian telah memberikan bantuan pompa supaya bisa dimanfaatkan untuk menarik air dari sumber-sumber air guna mengairi lahan persawahan, khususnya sawah tadah hujan.

Sejalan dengan upaya peningkatan produktivitas pertanian dan untuk mencegah terjadinya krisis pangan pada musim kemarau, Danrem pun menegaskan telah memerintahkan anggotanya untuk terjun membantu para petani agar musim tanam kedua dapat tepat waktu.

Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko mengatakan telah membuat program khusus yang diberi nama Sumur Dalam.

“Kami punya program yang namanya Sumur Dalam jumlahnya 250 dalam APBD 2021-2026, hari ini sudah terpenuhi kira-kira 190,” bebernya.

Sugiri menegaskan, upaya yang dilakukan itu bertujuan untuk meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) di Ponorogo.

“APBD menyiapkan itu semua dalam rangka mewujudkan mimpi besar kita agar IP menjadi lebih banyak lagi,” sebutnya.

Komitmen pemerintah untuk meningkatkan produktivitas pertanian juga terlihat dari langkah-langkah yang diambil, seperti program Sumur Dalam yang telah dicanangkan oleh Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko. Program ini bertujuan untuk mengatasi kesulitan air pada lahan pertanian tadah hujan, dengan harapan dapat meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) di wilayah tersebut.

Baca Juga  Persatuan Sosial masyarakat Tionghoa Indonesia (PSMTI) dapat apresiasi penuh dari ketua (PMI) pesawaran

Meskipun demikian, tantangan tidak hanya dihadapi oleh Ponorogo tetapi juga oleh seluruh daerah di Jawa Timur.

Danrem, dalam mengantisipasi musim kemarau yang berpotensi menyebabkan krisis pangan, telah memerintahkan anggotanya untuk membantu petani agar musim tanam kedua dapat berjalan sesuai jadwal. Hal ini dilakukan untuk menghindari kekurangan air dan penurunan produktivitas hasil panen.

“Menghadapi musim kemarau akibat adanya El Nino, bersama Kementerian Pertanian dan pemerintah daerah, kami kerahkan seluruh anggota, khususnya para Babinsa untuk fokus ke sawah, supaya musim tanam yang kedua ini nanti tidak melebihi bulan Mei,” ujar Danrem.

Dengan upaya bersama dari pemerintah, militer, dan masyarakat, diharapkan Jawa Timur tetap menjadi barometer pertanian nasional dan mampu menghadapi tantangan-tantangan yang ada untuk menjaga ketahanan pangan Indonesia.

Pos terkait