Bupati Karolin saat menyerahkan piala dan penghargaan, Semangat Bersatu Hadapi Segala Tantangan
Beritatrends, Landak – Suara tawa dan sorak-sorai warga Desa Ambarang, Kecamatan Ngabang, membahana memecah keheningan. Rabu, 19 Agustus 2026 malam bukan sekadar pesta biasa, ini adalah puncak sekaligus penutup rangkaian perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang telah menyatukan hati seisi desa sejak awal bulan.
Kehadiran Bupati Landak, Karolin Margret Natasa, menjadi pelengkap kemeriahan yang disambut hangat oleh warga yang memadati lokasi acara. Rabu (19/8/2026) malam.
Di tengah suasana penuh sukacita itu, Bupati Karolin tak sekadar datang bersilaturahmi, ia memandang rangkaian lomba dan kegembiraan warga bukan sekadar hiburan belaka.
Dibalik itu semua, tersimpan makna yang jauh lebih dalam, kemerdekaan sejati tercermin dari eratnya persaudaraan, tegaknya persatuan, dan kebersamaan yang tak tergoyahkan antarwarga.
“Melalui kegiatan yang kita laksanakan bersama ini, mari kita pererat tali persatuan dan kesatuan. Kemerdekaan yang kita rayakan harus menjadi pengikat, bukan pemisah kita semua,” ujar Karolin dengan tulus di hadapan segenap warga Ambarang.
Namun di samping kemeriahan tawa dan kegembiraan, Bupati Karolin juga menyampaikan kenyataan yang harus dihadapi bersama. Di saat bangsa berusia 81 tahun, roda pembangunan ternyata tak selamanya berjalan mulus di atas jalan rata.
Kebijakan efisiensi anggaran yang sedang berlaku turut terasa dampaknya hingga ke tingkat desa. Anggaran desa ikut dipangkas, sama halnya dengan anggaran daerah.
“Kebutuhan warga memang banyak, namun untuk sementara waktu kita semua harus ikhlas dan saling memaklumi. Anggaran sedang berat, baik di tingkat daerah maupun di desa. Mari kita sabar dan saling mengerti, karena kita sedang berjuang bersama melewati masa-masa sulit ini,” tuturnya dengan nada memohon pengertian, seolah seorang ibu yang meminta anak-anaknya saling memahami keadaan rumah yang sedang berhemat.
Tak lupa, Karolin pun mengingatkan satu hal yang kerap terlupakan, menjaga apa yang sudah dimiliki. Ia mengajak warga, terutama para pengusaha perkebunan kelapa sawit, untuk bijak dalam memanfaatkan jalan yang melintas di wilayah mereka. Jangan sampai jalan yang sudah susah payah dibangun menjadi rusak dini akibat beban berlebih.
“Tolong sayangi jalan kita. Muatan sawit harap disesuaikan dengan kemampuan jalannya. Kalau dijaga bersama, jalan itu bermanfaat lama untuk kita semua. Pembangunan yang ada itu titipan, mari kita rawat bersama,” pesannya penuh makna.
Dari kabar yang disampaikan Bupati, Gubernur Kalimantan Barat pun dijadwalkan akan meninjau sejumlah ruas jalan provinsi menuju wilayah Serimbu pada akhir Agustus ini. Harapannya, perhatian terhadap infrastruktur daerah semakin nyata dirasakan masyarakat.
Tak hanya soal jalan dan anggaran, Bupati Karolin juga memberi sinyal baik bagi warga Ambarang. Pemerintah Kabupaten terus berupaya menyiapkan alokasi dana agar Pemilihan Kepala Desa definitif di Desa Ambarang dapat segera terlaksana. Artinya, masa penantian pemimpin desa yang sah akan segera terjawab.
Sebagai tanda apresiasi yang tulus atas kerja keras panitia dan warga, Bupati Karolin turut menyisihkan dana pribadi untuk membantu kebutuhan penyelenggaraan acara. Sebuah perhatian kecil yang terasa hangat di tengah suasana kebangsaan.
Sementara itu, Ketua Panitia Penyelenggara, Marselius, melaporkan bahwa rangkaian perayaan telah berjalan penuh semangat sejak tanggal 2 Agustus lalu. Berbagai lomba rakyat hingga pertandingan olahraga digelar, berjalan lancar, aman, dan meriah. Keberhasilan ini tentu tak lepas dari gotong royong warga serta dukungan para donatur.
“Terima kasih sebesar-besarnya kepada Ibu Bupati, para donatur, dan seluruh warga Ambarang yang telah berpartisipasi. Semangat kebersamaan inilah yang membuat segala kesulitan terasa ringan,” ujar Marselius mewakili panitia.
Malam puncak pun ditutup dengan penyerahan hadiah kepada para pemenang perlombaan dan penutupan resmi rangkaian kegiatan oleh Bupati Karolin. Namun sesungguhnya, yang ditutup hanyalah serangkaian acaranya. Semangat gotong royong, persatuan, dan kesabaran menghadapi keterbatasan, itulah yang diharapkan tetap terbawa dan terus hidup di setiap hati warga Ambarang sebagai modal membangun desa tercinta.
Karena sejatinya, kemerdekaan yang sudah berusia 81 tahun ini bukan sekadar soal bebasnya bangsa dari penjajah. Lebih dari itu: kemerdekaan adalah saat kita mampu bersatu, saling mengerti keadaan, dan bahu-membahu menjaga apa yang ada, meski di tengah keterbatasan sekalipun.





