Ilustrasi Laporan Khusus: Tahun Ajaran Baru, Rezeki Rakyat Dirampas
BeritaTrends, Magetan – Pagi di Magetan begitu menyejukkan. Dari pelataran Pasar Baru, Gunung Lawu tampak gagah berbalut kabut tipis, memancarkan keindahan alam yang tak tertandingi. Namun, di balik pemandangan yang damai itu, tersimpan kesedihan mendalam yang menyelimuti jantung perekonomian warga di tengah kota ini, Jumat 10 Juli 2026
Dahulu, Pasar Baru adalah tempat yang tak pernah sepi. Dari rakyat kecil hingga kaum terpandang, semuanya berdatangan ke sini untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun kini, langkah kaki orang semakin jarang terdengar. Memang ada harapan yang muncul saat Bupati Suprawoto mengubah lantai dua menjadi Mal Pelayanan Publik, warga datang mengurus surat-menyurat, memberi sedikit napas hidup bagi bangunan ini. Namun, di lorong-lorong toko di bawahnya, terasa kesunyian yang memilukan.
Kesunyian itu terasa paling menyakitkan tepat di momen yang seharusnya menjadi sumber rezeki terbesar: Awal Tahun Ajaran Baru.
Saat seluruh Indonesia sibuk menyiapkan kebutuhan sekolah, di Pasar Baru Magetan justru sepi tak berpenghuni. Toko-toko perlengkapan sekolah yang dulu dipadati orang tua murid, kini hanya diam menunggu pembeli yang tak kunjung datang. Yuni, salah satu pelayan toko yang sudah lama berdagang di sana, tak sanggup menyembunyikan kekecewaannya. Wajahnya lelah menatap tumpukan barang yang tak tersentuh.
“Hampir tak ada yang beli di sini. Semua dipaksa beli di sekolah,” ucap Yuni lirih namun penuh penekanan. “Kalau ada yang datang, paling hanya satu dua orang saja. Tak sebanding dengan ramainya orang yang dulu kami sambut setiap tahun di masa seperti ini.”
Para pedagang kini hidup dalam ketakutan dan ketidakpastian. Mereka tak berani menyetok barang banyak-banyak, karena perubahan model seragam sering terjadi tanpa pemberitahuan yang jelas dari pihak berwenang.
“Lihatlah seragam batik motif Pring warna merah itu,” tunjuk Yuni pada tumpukan barang yang menumpuk. “Stok kami masih sangat banyak, tiba-tiba modelnya diganti. Belum sempat habis satu model, sudah berubah lagi. Untung kami dapat info dari pembeli, kalau tidak, kami bisa bangkrut seketika. Juragan kami pun terpaksa membagi-bagikan sisa stok lama itu ke sekolah-sekolah, daripada menjadi sampah tak berguna,” ucap Yuni.
Kini mereka hanya berani menyediakan seragam dasar yang tak berubah baju putih, celana merah untuk SD, dan seragam biru untuk SMP. Untuk tingkat SMA dan SMK? Mereka sama sekali tak berani menyetok barang. Karena semuanya sudah dikuasai dan disediakan langsung oleh pihak sekolah.
Pertanyaan Tajam untuk Dinas Pendidikan dan Pemerintah Daerah
Fakta ini menampar wajah aturan yang ada di atas kertas. Seharusnya sekolah adalah tempat anak-anak mencari ilmu, bukan tempat berdagang yang memonopoli kebutuhan murid. Namun kenyataannya, praktik ini berjalan terus tanpa ada yang berani menghentikannya.
Kepada Dinas Pendidikan dan seluruh pihak terkait, para pedagang bertanya dengan lantang, “Mengapa aturan yang melarang penjualan seragam di sekolah hanya menjadi tulisan mati? Mengapa kebijakan seolah memaksa orang tua murid membeli hanya di sekolah, sehingga kami pedagang kecil kehilangan sumber penghidupan kami?”
Ini bukan sekadar soal baju dan kain. Ini adalah soal keadilan ekonomi. Rezeki yang seharusnya dinikmati oleh pedagang pasar, penjahit lokal, dan toko kain di seluruh penjuru Magetan, kini disedot habis hanya ke satu arah: ke sekolah-sekolah. Akibatnya, perekonomian rakyat kecil melemah, pasar semakin sepi, dan kebebasan orang tua memilih tempat berbelanja dirampas begitu saja.
“Kami memohon,” pinta Yuni dengan harapan yang masih tersisa. “Jika ada perubahan seragam, beritahulah kami lebih awal agar kami tidak rugi. Namun yang paling utama: Kembalilah sekolah menjadi tempat belajar, bukan tempat berjualan. Biarkan kami pedagang mendapatkan bagian rezeki kami di tahun ajaran baru ini, seperti yang terjadi selama puluhan tahun sebelumnya.”
Aturan harus ditegakkan. Jangan biarkan kebijakan membuat rakyat kecil menderita, sementara keuntungan berputar hanya di lingkaran yang sempit. Biarkan Pasar Baru dan pedagang di seluruh Magetan kembali ramai, biarkan persaingan berjalan sehat, dan jangan pernah jadikan sekolah sebagai tempat berdagang.





