Beritatrends,Magetan – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Magetan terus berkomitmen memberikan bekal nyata bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP). Melalui program pembinaan kemandirian, Rutan Magetan sukses menggelar pelatihan tata boga bersertifikasi hasil kerja sama dengan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Latihan Kerja (BLK) Ponorogo.
Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk respons cepat terhadap instruksi pimpinan terkait penguatan pembinaan lanjutan bagi para tahanan dan narapidana.
Kasubsi Pelayanan Tahanan selaku Pengampu Pembina Kepribadian dan Kemandirian Rutan Magetan, Rahmad Norkolis, menjelaskan bahwa program ini merupakan pengembangan dari kerja sama yang sebelumnya telah terjalin dengan Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Magetan.
“Prosesnya bermula dari adanya tuntutan pimpinan terkait pembinaan lanjutan. Kami kembangkan yang awalnya hanya dengan Disnaker Magetan, kini merambah ke UPT BLK Ponorogo. Kebetulan saat perpanjangan MoU dengan Magetan, Kepala UPT BLK Ponorogo juga hadir. Dari sana kami langsung jalin kerja sama,” ujar Rahmad
Melalui sinergi lintas daerah ini, Rutan Magetan berhasil membawa program pelatihan kerja formal ke dalam lingkungan rutan dengan fasilitas yang setara dengan pelatihan di luar instansi.
Pada periode kali ini, pelatihan difokuskan pada bidang tata boga, khususnya pembuatan kue dan roti. Rahmad menegaskan tidak ada perbedaan kualitas pelayanan maupun materi antara pelatihan di dalam Rutan dengan di gedung BLK Ponorogo sendiri. Semua instruktur, peralatan, dan bahan dasar dipasok penuh secara profesional.

“Kami mendapatkan fasilitas penuh layaknya UPT BLK Ponorogo. Bahan dasar, peralatan, hingga mentor dikirim langsung dan kompeten. Jam pelajaran pun sama, dengan durasi 8 jam per hari,” jelasnya.
Namun, karena adanya regulasi ketat dari BLK, kuota peserta dibatasi hanya untuk warga binaan lokal. “Syarat dari mereka mayoritas peserta harus merupakan warga asli Magetan. Jadi kami seleksi ketat di dalam. Kuotanya juga terbatas dan ke depan jika ada pelatihan lagi jumlahnya akan tetap sama,” tambah Rahmat.
Selama 16 hari, para peserta diajarkan teknik profesional mulai dari pencampuran bahan, proses pembulatan adonan (rounding), pengembangan (proofing), hingga pemanggangan. Kendati demikian, Rahmat mengakui masih ada ruang evaluasi untuk program ke depan. “Mungkin yang masih kurang bagi saya adalah terkait materi pemasaran produk. Peserta diajari banyak jenis roti dan prosesnya, namun belum menyentuh strategi pemasarannya.”
Tujuan utama dari program ini bukan sekadar mengisi waktu luang, melainkan komitmen Rutan Magetan dalam menghapus stigma bahwa penjara hanya tempat merenggut kemerdekaan seseorang. Rutan ingin memastikan setiap WBP pulang membawa keahlian baru yang produktif.
“Harapan terbesar kami, setelah keluar nanti mereka bisa langsung membuka usaha mandiri. Kami juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial (Dinsos). Pihak Dinsos menyatakan siap membantu memberikan bantuan dana stimulan modal usaha bagi mantan warga binaan yang terbukti merintis usaha setelah bebas,” ungkap Rahmad optimis.
Mengenai jenis pelatihan, Rutan Magetan memastikan program yang diberikan selalu bervariasi setiap tahunnya tergantung pada ketersediaan anggaran daerah maupun provinsi. Sebagai pembanding, pada tahun lalu Rutan Magetan sukses menggelar pelatihan pangkas rambut (barbershop).
“Pelatihan tiap tahun berbeda karena anggarannya fleksibel. Jika menggunakan anggaran Provinsi melalui UPT BLK, pengajuan tahun ini baru terealisasi tahun depan. Namun jika menggunakan APBD Magetan, prosesnya lebih cepat,pengajuan di triwulan pertama, biasanya triwulan kedua atau ketiga pelatihan sudah bisa dilaksanakan,” pungkasnya.





