Ponorogo, beritatrends.co.id – Ketua DPRD Kabupaten Ponorogo KRA. Dwi Agus Prayitno, meminta kader Barisan Ansor Serbaguna (Banser) kembali memperkuat komitmen pengabdian kepada ulama, Nahdlatul Ulama (NU), masyarakat, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pesan tersebut disampaikan Dwi Agus saat menjadi inspektur Apel Purifikasi Satkorcab Banser Ponorogo di kawasan Monumen Reog Ponorogo, Kecamatan Sampung, Minggu (9/8). Apel tersebut menjadi momentum konsolidasi sekaligus evaluasi bagi kader Banser untuk menata kembali niat dan komitmen dalam menjalankan amanah organisasi.
Apel dihadiri jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah PCNU Kabupaten Ponorogo, MWC NU Kecamatan Sampung, Forkopimda Ponorogo, Plt Bupati Ponorogo Hj. Lisdyarita, jajaran TNI-Polri, Forkopimcam Sampung, pengurus PC GP Ansor Ponorogo, serta Satkorcab Banser Ponorogo.
Dwi Agus menilai istilah purifikasi memiliki makna penting bagi kader Banser. Yakni, pembersihan dan pemurnian kembali niat serta penataan barisan agar tetap berada pada jalur pengabdian.
“Purifikasi artinya pembersihan, pemurnian, dan penataan kembali niat serta barisan kita. Ingatlah Nawa Prasetya Banser dan Bai’at yang baru saja kalian ucapkan,” katanya.
Dia menegaskan Banser tidak lahir untuk sekadar menunjukkan kekuatan. Organisasi tersebut merupakan bagian dari perjalanan perjuangan ulama dan NU.
“Banser lahir bukan untuk gagah-gagahan di jalanan. Banser dibentuk bukan untuk mencari tepuk tangan,” tegasnya.
Menurut Dwi Agus, tugas utama Banser adalah menjaga kehormatan ulama, mengabdi kepada NU, serta memberikan pelayanan kepada masyarakat. Karena itu, kader Banser harus menempatkan pengabdian sebagai orientasi utama.
“Banser lahir dari rahim perjuangan para kiai. Tugas utama dan pertama adalah menjadi benteng ulama, benteng Nahdlatul Ulama, dan Khadimul Ulama,” ujarnya.
Dwi Agus juga mengungkapkan sisi emosionalnya saat berdiri di hadapan barisan Banser. Dia mengenang masa pengabdiannya sebagai Sekretaris PC GP Ansor Ponorogo periode 2000–2004. Saat itu, dirinya bekerja bersama Drs. Fatchul Aziz yang menjabat Ketua PC GP Ansor Ponorogo dan almarhum Masrur David sebagai Kasatkorcab Banser Ponorogo.
“Jujur, saat saya berdiri di atas mimbar Inspektur Apel ini dan melihat seragam loreng Banser yang sahabat-sahabat kenakan, dada saya bergetar,” ungkapnya.
Meski kini mendapat amanah sebagai Ketua DPRD Ponorogo, dia menegaskan status dan jabatan tidak menghapus identitasnya sebagai kader Ansor dan Banser.
“Meskipun hari ini takdir dan amanah rakyat menempatkan saya sebagai Ketua DPRD Kabupaten Ponorogo, di dalam darah dan napas saya tidak pernah luntur sedikit pun rasa bangga sebagai kader Banser,” katanya.
Menurut dia, perubahan posisi dan tanggung jawab tidak boleh menghilangkan nilai pengabdian yang telah dibangun sejak menjadi kader organisasi.
“Seragam boleh berganti dalam tugas kenegaraan, namun jiwa, ruh, dan komitmen khidmah saya tetap satu barisan dengan kalian,” imbuhnya.
Selain pengabdian kepada ulama dan NU, Dwi Agus mengingatkan kader Banser mengenai tanggung jawab kebangsaan. Banser, kata dia, merupakan bagian dari kader bangsa yang memiliki tanggung jawab menjaga persatuan, toleransi, keamanan sosial, dan keutuhan NKRI.
“Banser adalah kader bangsa. Banser adalah penjaga NKRI dalam situasi dan kondisi apa pun,” tegasnya.
Dia menilai perjuangan mendirikan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peran ulama bersama seluruh elemen bangsa. Karena itu, nilai kebangsaan harus menjadi bagian penting dalam setiap pengabdian kader Banser.
Dwi Agus kemudian mengingatkan empat prinsip kebangsaan yang harus menjadi pegangan kader. Yakni Pancasila sebagai falsafah negara, NKRI sebagai harga mati, Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan pemersatu, dan UUD 1945 sebagai konstitusi negara.
Kader Banser juga diminta mengambil peran dalam menjaga kondusivitas masyarakat, terutama ketika muncul potensi konflik sosial.
“Di saat ancaman radikalisme, intoleransi, atau benturan sosial mencoba memecah belah bangsa, Banser harus hadir sebagai pemersatu,” katanya.
Sebagai kader Ansor dan Banser sekaligus Ketua DPRD Ponorogo, Dwi Agus mendorong kader terus memperkuat komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat dan pemerintah daerah. Dia menyebut Banser memiliki posisi strategis dalam menjaga stabilitas sosial.
“Banser adalah aset strategis bangsa. Banser adalah benteng moral dan sosial yang menjaga Ponorogo tetap kondusif, damai, dan bermartabat,” tegasnya.
Dia berharap Apel Purifikasi tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Lebih dari itu, kegiatan tersebut harus menjadi momentum memperkuat disiplin organisasi, soliditas kader, serta orientasi pengabdian kepada ulama, masyarakat, dan bangsa.
“Jaga satu barisan, jaga marwah NU, dan kawal sanad perjuangan ini hingga akhir hayat,” pungkasnya.
Apel Purifikasi Satkorcab Banser Ponorogo tersebut menjadi bagian dari konsolidasi kader untuk memperkuat komitmen organisasi dalam menjalankan fungsi sosial dan kebangsaan serta ikut menjaga Kabupaten Ponorogo tetap aman, damai, dan kondusif.
Kalau ingin lebih “menggigit” untuk portal online, sudut beritanya bisa ditarik ke pernyataan Dwi Agus soal
“Banser bukan untuk gagah-gagahan, tapi benteng ulama dan penjaga NKRI” sebagai lead utama.





