Beritatrends,Blitar –Ketersediaan darah menjadi salah satu bagian pentingdalam mendukung keselamatan pasien, terutama dalamkondisi yang membutuhkan transfusi segera. Menjawabtantangan tersebut, RSUD Ngudi Waluyo Wlingimenghadirkan SI DOKAR MAS (Sistem Donor Karyawandan Masyarakat) sebagai upaya membangun gerakan donor darah yang terstruktur dan berkelanjutan.
Inovasi tersebut lahir dari kebutuhan untuk memastikanketersediaan darah bagi pasien, khususnya dalam kondisikegawatdaruratan maupun kasus yang membutuhkan transfusidarah secara rutin. Beberapa di antaranya adalah perdarahanmasif, thalassemia, hemodialisa, anemia berat, perdarahanpada ibu melahirkan, hingga kebutuhan transfusi pada bayi.
Kebutuhan darah di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi sendirimenunjukkan tren yang cukup tinggi. Berdasarkan data permintaan darah, tercatat sebanyak 5.164 kantong pada 2020, 4.268 kantong pada 2021, 5.111 kantong pada 2022, 6.049 kantong pada 2023, 7.026 kantong pada 2024, dan meningkatmenjadi 7.524 kantong pada 2025.
Di sisi lain, rumah sakit masih menghadapi tantangan ketikamembutuhkan pendonor cyto atau pendonor darurat, terutamasaat stok darah di unit pengelola darah rumah sakit sedangkosong.
Kondisi tersebut mendorong tim inovasi untuk mencari solusiyang tidak hanya bersifat insidental, tetapi dapat membangunsistem donor yang lebih terencana.
Direktur RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, Dr. dr. Endah WoroUtami, MMRS, mengatakan bahwa SI DOKAR MAS dikembangkan dengan memanfaatkan potensi besar yang dimiliki rumah sakit dan masyarakat.
“Kami memiliki lebih dari 700 karyawan, dan sekitar 300 di antaranya merupakan pendonor aktif. Potensi besar ini harusdikelola untuk menjaga ketersediaan stok darah demi keselamatan pasien,” ungkapnya.
Melalui SI DOKAR MAS, rumah sakit melakukan pendataangolongan darah karyawan, penjadwalan donor darah secararutin setiap tiga bulan, serta membangun jejaring denganmasyarakat, komunitas, dan kelompok yang memilikikepedulian terhadap donor darah di wilayah Blitar.
Dengan pola tersebut, donor darah tidak lagi hanya dilakukanketika ada keluarga pasien yang membutuhkan, tetapidiarahkan menjadi gerakan rutin dan terencana.
Dampaknya mulai dirasakan dalam pelayanan. Responsterhadap permintaan darah cyto menjadi lebih cepat. Keluargapasien juga tidak harus mencari donor pengganti hingga keluar kota ketika stok darah yang dibutuhkan tidak tersedia.
Selain ketersediaan darah, inovasi ini juga menyentuh aspekefisiensi penggunaan komponen darah. Untuk pasien bayiyang membutuhkan volume darah dalam jumlah lebih kecil, rumah sakit menyiapkan kantong darah khusus volume kecilatau pediatric, sehingga penggunaan darah dapat lebih sesuaidengan kebutuhan pasien sekaligus membantu mengurangilimbah medis.
Bagi karyawan yang menjadi pendonor aktif, keberadaanprogram ini juga memberikan kemudahan karena kegiatandonor memiliki jadwal yang lebih teratur.
“Dengan jadwal yang jelas dan pengelolaan yang baik, kami bisa donor secara rutin. Ada rasa bangga karena apa yang kami lakukan bisa langsung menyelamatkan nyawa,” ujarsalah satu karyawan pendonor aktif.
Lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan stok darah, SI DOKAR MAS menjadi upaya RSUD Ngudi Waluyo Wlingimembangun budaya kepedulian dan gotong royong di lingkungan rumah sakit maupun masyarakat.
Ketersediaan darah tidak dapat hanya mengandalkan satupihak. Dibutuhkan keterlibatan bersama antara rumah sakit, karyawan, komunitas, dan masyarakat untuk memastikanpasien mendapatkan darah ketika membutuhkan.
Melalui gerakan tersebut, RSUD Ngudi Waluyo Wlingi terusberupaya menghadirkan pelayanan transfusi darah yang aman, cepat, dan sesuai kebutuhan pasien.
SI DOKAR MAS menjadi salah satu bentuk nyata bahwakepedulian sederhana melalui donor darah dapat menjadibagian penting dalam menyelamatkan kehidupan.





