Banyak Petahana Tumbang, Dominasi Pendatang Baru

Beritatrends, Magetan – Sejumlah pendatang baru pada Pileg Kabupaten Magetan 2024 berpotensi menggeser caleg petahana.

Berdasarkan update rekapitulasi online KPU per 20 Februari 2024, pukul 11.00 WIB, sejumlah nama-nama baru mendominasi suara di partainya masing-masing dan berpotensi menggeser caleg petahana.

Dapil 5 Magetan misalnya, di Partai Nasdem ada nama baru Marga Dwi Setyawan yang saat ini memimpin perolehan suara terbanyak di partainya.

Marga saat ini telah meraih 2.076 suara, mengungguli Caleg petahana di Dapil 5 lainya, seperti Ir. Hari Gitoyo (Demokrat), Bahrudin (PPP), Sofyan (PDI P), dan Mohyar (Golkar).

Di dapil 5 Magetan, juga terdapat pendatang baru yang berpotensi menggeser petahana. Misalnya di PAN, Caleg perempuan Nenus Trine Ningtyas telah mengungguli petahana dengan 1.404 suara.

Namun di Dapil 5, PKB masih berada di posisi pertama dengan perolehan sementara 6.887 suara partai dan caleg, dan berpotensi meraih dua kursi melalui pendatang baru Agus Dwi Wibowo (1.486), dan petahana Nur Wakhid (2.811)

Sementara itu, pada Dapil 3 Magetan juga ada dominasi pendatang baru Didik Haryono (Golkar) yang meraih 1.564 yang berpotensi menggeser petahana.

Berdasarkan update rekapitulasi online KPU Magetan, pada Dapil 1 Magetan juga muncul nama pendatang baru Wahyu Kurniawan dari Partai Demokrat yang meraih 659.

Pada Dapil 2 Magetan, mantan Ketua DPRD Magetan, Joko Suyono (PDI P) 1.866 suara, sementara kalah unggul suara dari pendatang baru Riyin Nur Asiyah (PKB) dengan 3.382 suara.

Muries Subiyantoro, seorang Pengamat Politik dan Pegiat Demokrasi dari Local Government and Political Research Institute (LoGoPoRI) Magetan, mengungkapkan bahwa fenomena tumbangnya petahana dalam politik memiliki akar pada beberapa faktor, termasuk pola kampanye yang kurang efektif.

Baca Juga  Wisatawan Padati Festival Bakar Tongkang di Rohil

“Partai-partai cenderung menempatkan caleg ‘vote getter’ di semua dapil, seperti pendatang baru yang memiliki potensi menarik suara,” ujar Muries, menyoroti perubahan strategi partai dalam menentukan caleg.

Faktor kapital juga menjadi pemicu signifikan, memengaruhi dinamika politik lokal. “Realitas ini tidak dapat diabaikan,” tambahnya.

Menurut Muries, petahana cenderung mempertahankan strategi lama, tidak sejalan dengan perubahan segment pemilih, khususnya dari kalangan milenial dan Generasi Z.

“Pemilih muda memiliki peran penting, dan strategi kampanye harus disesuaikan dengan preferensi mereka,” ungkap Muries, menggarisbawahi perlunya adaptasi terhadap perubahan demografis pemilih.

Perubahan dapil dari 5 menjadi 6 di Magetan juga menjadi faktor penentu. “Perubahan ini menguntungkan beberapa partai dan merugikan yang lain,” kata Muries, merinci dampak perubahan dapil terhadap suara partai.

Namun, Muries mencatat bahwa perubahan dapil tidak selalu diimbangi dengan perubahan strategi partai. “Strategi pemenangan perlu disesuaikan setiap kali dapil berubah,” tekannya.

Dengan demikian, analisis Muries menyoroti kompleksitas dinamika politik di Magetan, di mana faktor-faktor seperti perubahan dapil, strategi kampanye, dan perubahan segment pemilih berkontribusi pada tumbangnya petahana dalam konteks politik lokal.

Pos terkait