Haul Syuhada’ Korban Peristiwa Pemberontakan PKI 48 dan 65 di Magetan

Pelaksanaan Haul Syuhada’ Korban Peristiwa Pemberontakan PKI 48 dan 65

Beritatrends, Magetan – Di Masjid Jami’ Muttaqien Cokrokertopati Jalan Rogojati 1 Rt 02 Rw 01 Kel/Kecamatan Takeran, Kabupaten Magetan melaksanakan kegiatan Haul Syuhada’ korban peristiwa pemberontakan PKI 48 dan 65 dalam rangka memperingati peristiwa G.30.S/PKI Tahun 1965 dan peristiwa pemberontakan PKI Madiun Tahun 1948 oleh Yayasan Perguruan Islam Cokrokertopati Takeran dihadiri ratusan orang, Jumat (30/9/2022) malam.

Ketua YPI Cokrokertopati Dr. Muh. Choirul Anam M.Pd.i menjelaskan, kegiatan Haul Syuhada’ korban peristiwa pemberontakan PKI 48 dan 65 merupakan peristiwa G.30.S/PKI Tahun 1965 dan peristiwa pemberontakan PKI Madiun Tahun 1948.

Lanjut Choirul Anam, banyak orang mengira bahwa sosialisme-komunisme hanyalah sebatas ideologi yang berkaitan dengan sistem ekonomi dan politik yang bermaksud menghapus milik perseorangan dan menggantikannya dengan milik bersama. Sebuah ideologi yang kontra total dengan kapitalisme dan berusaha mengangkat derajat kalangan bawah, padahal masalahnya tak sebatas itu. Bahwa Partai Komunis Indonesia alias PKI, mereka sangat berambisi untuk menguasai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan menjadikannya sebagai negara komunis.

Walau sudah puluhan tahun dibatasi ruang gerak mereka, namun geliat gerakan bawah tanahnya terus berjalan. Secara senyap mereka bermetamorfosa menjadi bentuk baru, dan menyusup ke berbagai lini tanpa disadari.

Kebangkitan ideologi komunis makin terlihat nyata, ada kelompok yang ingin memutar fakta sejarah seolah mereka adalah korban. apabila demikian, PKI dan ideologi komunisme dengan segala bentuknya ibarat bom waktu yang setiap saat siap meledak di Negara Kesatuan republik Indonesia (NKRI) ini.

Maka dari itu, wajib bagi seluruh warga negara terutama kaum muslimin untuk waspada. Dengan memohon pertolongan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya yang mulia dengan pemahaman para sahabat yang mulia, serta bahu-membahu dengan pemerintah, baik sipil maupun militer.

Baca Juga  Sejarah Desa Nitikan - Magetan

Komunisme adalah bahaya laten yang harus senantiasa dipantau, diwaspadai, dan dipangkas akarnya, komunisme bagaikan bom waktu yang harus segera dijinakkan. untuk menjinakkannya membutuhkan ilmu, keberanian, ketangkasan, dan penanganan yang tepat kalau tidak bukan suatu hal yang mustahil peristiwa 1948 di Madiun dan G30S/PKI 1965 terulang kembali.

“Bahwa kegiatan Peringatan Haul Syuhada’ korban peristiwa pemberontakan PKI 48 dan 65 dalam rangka memperingati peristiwa G.30.S/PKI Th. 1965 dan peristiwa pemberontakan PKI Madiun tahun 1948 oleh Yayasan Perguruan Islam Cokrokertopati Takeran bertujuan supaya generasi muda bangsa Indonesia tidak akan lupa sejarah kelam yang pernah menimpa bangsa Indonesia,”papar Choirul Anam.

Ditambahkan Ketua Brigade ormas OI Magetan Sifaul Anam, S.Pdi mengatakan, untuk mengingatkan kepada umat Islam bahwa kedudukan Kyai Ulama, Pimpinan Pesantren yang notabene gigih dalam menyerukan anti komunis dan gigih dalam menjaga Pancasila saat ini sangatlah mengkhawatirkan, mereka menjadi sasaran Neo Komunis untuk dilemahkan dengan cara licik kriminalisasi Ulama dan mengekang aktifitas pesantren-pesantren salaf.

Selain itu juga mengingatkan bahwa kondisi malam ini dimana kegiatan yang seharusnya dan selazimnya diselenggarakan di Makam Monumen Soco sebagai bentuk khurmat kepada korban kekejaman PKI dilaksanakan di Masjid Jami’ Takeran.

“Sejarah Tragedi penculikan Ulama Imam Mursid pada 17 September 1948 bahwa gembong PKI yang bernama Zuhud saat menjemput Kyai Imam Mursid seraya menukil sebuah ayat, oleh sebab itu Umat Islam harus waspada bahwasanya Pelaku Komunis adalah orang yang juga paham betul tentang ajaran Islam dan fasih dalam berdalil, sebab komunis dalam mewujudkan tujuanya melalui sistem pemerintahan kala itu, sebab PKI merupakan sebuah partai yang berada di pemerintahan,” Sifaul Anam.

Pos terkait