Oleh : KH. R. MUHAMMAD IMAAMUL MUSLIMIN (Pengasuh Ponpes Raden Patah Magetan)
BeritaTrends, Magetan – Asap kelam kini menutup langit senja negeri ini. Kota-kota yang biasanya berdenyut oleh hiruk pikuk rakyat, berubah menjadi panggung luka yang sulit dilupakan. Gedung-gedung yang seharusnya berdiri sebagai simbol pelayanan publik dan rumah aspirasi rakyat kini hanya menyisakan kerangka rapuh diselimuti jelaga. Di Makassar, api melahap lobi DPRD, meninggalkan puing-puing berbau duka. Tiga nyawa melayang, termasuk seorang warga yang berusaha menyelamatkan diri dari amukan massa. Di sana, bukan hanya bangunan yang terbakar, melainkan harapan pun ikut runtuh. Amarah massa merampas ketenangan, menyisakan jerit kehilangan yang mengendap dalam memori bangsa.
Nyala api juga menyambar di berbagai provinsi lain. Di NTB, Pekalongan, dan Cirebon, gedung DPRD dibakar, dijarah, dan dirusak. Di Cirebon, amarah bahkan meluber hingga ke kantor polisi, institusi yang sejatinya menjaga ketertiban, justru menjadi korban kebencian. Di Makassar, bukan hanya gedung yang runtuh, tetapi kendaraan dinas, ATM, hingga fasilitas parkir ikut habis tanpa ampun. Api tidak lagi membedakan: ia melahap simbol negara, fasilitas pelayanan, bahkan benda kecil yang sebetulnya menopang kehidupan rakyat.
Jakarta pun tak kuasa menahan murka. Tujuh gerbang tol—Slipi, Pejompongan, Senayan, Semanggi, Kuningan—dibakar massa. CCTV yang menjadi mata keamanan negeri dipatahkan, barrier jalan dan median beton porak-poranda. Halte TransJakarta di berbagai titik ibukota—Polda Metro Jaya, Senen, Bundaran Senayan, Gerbang Pemuda, hingga Pramuka—hangus tak berbentuk, tinggal besi hitam yang berdiri kaku. Pemandangan ini bagai ironi: transportasi publik yang selama ini menopang rakyat jelata justru menjadi korban dendam yang tak jelas ujung pangkalnya.
Di Surabaya, Gedung Negara Grahadi terbakar hingga sisi timur luluh lantak, disertai kendaraan dinas yang ikut hangus. Mall-mall menutup pintu, outlet cepat saji memadamkan lampu lebih awal, transportasi lumpuh. Di Yogyakarta, Gedung pelayanan SIM dan SPKT Mapolda DIY hangus terbakar, hingga Sultan HB X turun tangan untuk menenangkan suasana. Pontianak bergejolak, ban-ban dibakar, kantor DPRD dan pos polisi diserang. Bandung ikut tenggelam dalam amarah, Wisma MPR di dekat DPRD terbakar, ketakutan membekap kota kembang.
Kediri menyimpan kisah yang lebih getir. Gedung DPRD Kota dan Pemkab dibakar dan dijarah, lobi runtuh, perabotan hancur, fasilitas pelayanan publik sirna. Tasikmalaya pun tak luput, kaca-kaca gedung DPRD pecah, kursi dan monitor rusak, dinding penuh coretan simbol protes. Malang lebih tragis lagi—16 pos polisi dibakar, aparat terluka, warga ketakutan, suasana kota dipenuhi kepanikan yang membekukan nadi kehidupan sehari-hari.
Namun amarah itu tidak berhenti pada gedung pemerintahan. Ia merembes masuk ke ruang-ruang pribadi. Rumah-rumah tokoh publik menjadi sasaran pelampiasan. Rumah Ahmad Sahroni digeruduk, mobil mewah, perabotan, bahkan brankas dirampas. Rumah Eko “Eko Patrio” dijarah, kursi, koper, speaker, hingga hewan peliharaan ikut hilang. Rumah Uya Kuya porak-poranda, pagar dirusak, perabot dicuri, bahkan kucing peliharaan ikut dibawa. Semua itu menggambarkan betapa amarah yang tak terkendali mampu menenggelamkan batas moral, menjadikan rumah tangga orang lain sebagai korban balas dendam.
Tak berhenti di situ, area Gedung DPR RI di Jalan Gatot Subroto pun rusak parah. Pagar dicabut, tembok dicorat-coret vandalisme, tiang listrik terbakar, dan sisa puing berserakan. Setiap pecahan kaca, setiap benda yang hilang, setiap gedung yang menjadi arang adalah simbol sakit bangsa ini. Gedung megah maupun barang sederhana, keduanya sama: mereka adalah bagian dari amanat negara untuk rakyat, dan kini hanya tersisa debu dan air mata.
Namun sejatinya, semua ini bukanlah jalan keadilan. Ia hanya melahirkan luka, bukan penyembuhan. Ia hanya meninggalkan abu, bukan solusi. Negara mencatatnya sebagai kejahatan, agama menegaskannya sebagai dosa. Allah mengingatkan dalam firman-Nya, “Wala tufsiduu fil ardhi ba’da ishlahihaa” — Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi setelah dijaganya. Rasulullah pun bersabda, “Al-muslimu man salima al-muslimuuna min lisaanihi wa yadihi” — Seorang muslim sejati adalah yang sesamanya selamat dari lisan dan tangannya. Bukankah dua pesan agung ini sudah cukup untuk menggugah hati bahwa kerusakan tidak pernah menjadi jalan keadilan?
Hari ini, bangsa kita berada di persimpangan jalan. Apakah kita akan terus membiarkan amarah memimpin, atau kita berani menyalakan kembali cahaya nurani? Jika kita terus menutup mata, negeri ini akan menjadi rumah luka yang terbakar tanpa arah. Tetapi jika kita berani mengubah jalannya, maka api bisa padam, dan abu bisa menjadi tanah subur bagi harapan baru.
Kita harus kembali kepada cara yang manusiawi: adu argumentasi, bukan lempar batu. Adu akal, bukan lempar api. Keadilan hanya bisa dimenangkan dengan ketegasan hati, bukan kekerasan tangan. Setiap dari kita memikul tanggung jawab, sebab bangsa ini bukan hanya milik pemerintah atau segelintir orang, melainkan milik bersama. Jika bukan kita yang menahan laju kerusakan, siapa lagi? Jika bukan sekarang, kapan lagi?
Wahai bangsaku, sadarlah. Ingatlah jati diri kita sebagai bangsa yang lahir dari kearifan, bukan dari bara kebencian. Kita adalah anak cucu para pejuang yang menyatukan perbedaan dengan persaudaraan, bukan generasi yang mengkhianati perjuangan dengan membakar masa depan. Jangan biarkan sejarah menuliskan nama kita sebagai generasi yang mengubur peradaban dengan tangannya sendiri.
Kini saatnya berhenti, menarik napas panjang, dan kembali pada jati diri bangsa: bangsa yang cinta damai, bangsa yang berjiwa besar, bangsa yang menjunjung tinggi martabat. Mari hentikan kobaran amarah. Mari menangkan keadilan dengan pikiran, bukan dengan api. Mari rebut masa depan dengan doa, kerja nyata, dan keikhlasan hati. Sebab keadilan sejati tidak datang dari amarah, melainkan dari keberanian untuk menjaga kebaikan. Dan cahaya itu hanya akan hadir jika kita kembali pada fitrah bangsa—bangsa yang beradab, bangsa yang penuh kasih, bangsa yang mengedepankan musyawarah, bukan pertikaian.
Sebelum bara terakhir padam, sebelum hati kita benar-benar menjauh dari cahaya, mari hentikan ini semua. Mari kita pulihkan luka bersama. Mari kita tunjukkan bahwa Indonesia masih punya harapan, selama ada anak bangsa yang berani berdiri untuk keadilan dengan cara yang bermartabat.
Ya Allah, Tuhan yang Maha Lembut, kami memohon ampun atas luka yang kami buat di bumi-Mu. Ampuni tangan-tangan kami yang tergelincir dalam amarah, ampuni hati-hati kami yang buta karena dendam. Ya Rabb, jangan biarkan negeri ini karam dalam kebencian. Jadikan abu yang tersisa sebagai tanah subur bagi harapan baru.
Ya Allah, satukan kembali hati kami dalam cinta persaudaraan. Lembutkan jiwa kami agar tidak membalas dengan api, tetapi dengan doa. Bukakan jalan damai, lapangkan dada para pemimpin, teguhkan iman rakyat jelata, agar bangsa ini kembali bernaung di bawah ridha-Mu.
Wahai Cahaya yang tak pernah padam, jangan biarkan kami berjalan dalam gelap amarah. Pimpin langkah kami menuju kesejukan, agar negeri ini tetap tegak dengan martabat, penuh kasih, dan beradab.
Aamiin ya Robbal ‘alamin.