Dengan 3 Kata WOL / Gotong Royong, Jiwa Kemerdekaan yang Tak Pernah Luntur
BeritaTrends, Magetan — Sudah menjadi semangat yang tak pernah putus, menjalar dari pelosok desa yang tersembunyi hingga ke ibu kota kabupaten, dari pusat provinsi hingga ke jantung ibu kota negara. Setiap tiba waktunya, seluruh bangsa seakan bersatu dalam satu nafas memperingati hari kemerdekaan. Peringatan ke-81 tahun ini pun tak luput di mana-mana lampu dinyalakan, bendera berkibar, dan hati rakyat bergetar bangga.
Namun tahukah Anda? Di tengah beragamnya cara merayakan, ada satu hal yang sama dan tetap abadi di hati masyarakat. Kalau dari tingkat masyarakat, peringatan itu dilaksanakan dengan tiga kata sakti WOL / Gotong Royong. Semua bahu-membahu, saling bantu, tanpa pamrih. Inilah inti kemerdekaan yang sesungguhnya bersatu, bergotong royong, membangun negeri.
Dan tak lengkap rasanya jika acara tasyakuran malam tirakatan tidak menghidangkan Panggang Tumpeng. Tradisi ini memang sudah melekat kuat di hati masyarakat kita, terutama orang Timur, tumpeng yang melambangkan rasa syukur, panggang yang menghangatkan kebersamaan. Semua berkumpul, menikmati hidangan bersama, sebagai tanda bahagia dan bersatu.
Dari suasana yang penuh kehangatan itu, Sopandi seorang Mantan Anggota DPRD Magetan dari Partai Golkar turut menyampaikan ungkapannya dengan bahasa yang lugas dan berapi-api.
“Waduh, para wali Magetan, kojor tenan! Iki acara tasyakuran 17 Agustus, ingkong lan panggange ayam potong ras. Mbokde, pakde, wes pada ngopeni pitik jowo. Karepe ngono, ya disiapne yen eneng slametan. Nanging tibak slametane nganggo pitik potong! Piye pitik jowone? Kabeh pitik pakde mbokde sak Magetan…”
Beliau pun kemudian menghitung dengan teliti
“Jumlah RT se-Magetan itu sekitar 5.000. Kalau setiap RT butuh satu ekor ayam, berarti 5.000 ekor ayam dibutuhkan. Kalau harga satu ekor rata-rata Rp. 80.000,-, coba dihitung: 5.000 dikali Rp. 80.000,- sama dengan Rp. 400.000.000,-! Wah, Lae… Eman tenan!”
Ucapan itu menyiratkan makna yang dalam. Empat ratus juta rupiah! Uang yang sebesar itu terpakai hanya untuk sekali tasyakuran, padahal banyak warga yang memelihara ayam kampung sendiri dengan penuh kasih sayang. Sayang sekali jika hidangan slametan justru harus membeli ayam potong dari luar, padahal di halaman rumah warga sendiri sudah berkeliaran ayam-ayam peliharaan yang sehat dan lezat. Bukankah lebih baik memanfaatkan apa yang ada di desa sendiri? Lebih hemat, lebih bermakna, dan lebih merakyat!
Di balik tawa dan canda saat menikmati tumpeng panggang, terselip satu pesan penting.
Kemerdekaan itu bukan sekadar pesta dan rayaan. Kemerdekaan adalah pandai bersyukur, pandai memanfaatkan apa yang dimiliki, dan tetap hidup hemat serta gotong royong. Jangan sampai kita merayakan kemerdekaan dengan boros, sementara yang kita butuhkan sebenarnya sudah ada di depan mata.
Semoga semangat WOL / Gotong Royong tetap menjadi nyawa peringatan kemerdekaan kita. Dan semoga di tahun-tahun mendatang, slametan kemerdekaan kita benar-benar lahir dari tangan dan keringat sendiri, dari apa yang tumbuh dan hidup di tanah kita tercinta. Agar makin terasa nikmat, makin terasa berkah, dan makin terasa. Inilah Merdeka Kita!





