Ritual Methik Pari di Glinggang, Wujud Syukur Panen Melimpah yang Sarat Makna Leluhur

Beritatrends,Ponorogo – Ratusan warga Desa Glinggang menggelar ritual adat Methik Pari atau petik padi sebagai bentuk rasa syukur atas melimpahnya hasil panen musim ini, Kamis (30/4/2026).

Tradisi yang sarat nilai budaya ini berlangsung meriah dengan kirab 300 tumpeng lengkap dengan ingkung (ayam panggang utuh) dari balai desa menuju area persawahan setempat.

Sepanjang perjalanan, warga tampak antusias mengikuti arak-arakan yang menjadi simbol kebersamaan sekaligus ungkapan terima kasih kepada Tuhan atas rezeki hasil bumi yang berlimpah. Setibanya di lokasi persawahan, rangkaian prosesi adat dilanjutkan dengan doa bersama sebelum akhirnya tumpeng dibagikan dan dinikmati bersama oleh warga dan pengunjung.

Riyanto, tokoh masyarakat Desa Glinggang, menjelaskan bahwa Methik Pari merupakan tradisi turun-temurun yang kini telah memasuki pelaksanaan ke-10. Menurutnya, ritual ini bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari warisan leluhur yang mengandung nilai filosofis mendalam bagi masyarakat agraris.

Ia mengungkapkan, tradisi ini erat kaitannya dengan kepercayaan masyarakat terhadap sosok Dewi Sri, yang dalam mitologi Jawa dikenal sebagai Dewi Padi atau simbol kesuburan. Di Desa Glinggang sendiri, terdapat lokasi yang diyakini sebagai “Tangga Bidadari”, yang dipercaya sebagai jalur turunnya Dewi Sri dari kahyangan ke bumi.

“Filosofinya, sejak dulu ini merupakan wujud syukur setelah panen. Masyarakat meyakini adanya Tangga Bidadari sebagai simbol turunnya Dewi Sri ke bumi,” ujar Riyanto, yang juga anggota DPRD Ponorogo dari Partai PDI Perjuangan.

Lebih lanjut Riyanto menambahkan, kehadiran Dewi Sri dipercaya membawa keberkahan bagi hasil pertanian warga. Dengan keyakinan tersebut, masyarakat berharap panen yang melimpah dapat terus berlanjut di masa mendatang.

“Kalau Dewi Sri sudah hadir di Glinggang, insyaallah panen akan baik, melimpah, dan membawa berkah bagi seluruh warga,” imbuhnya.

Baca Juga  Polsek Dan KUA Sukorejo Berikan Binluh Bahaya Narkoba Kepada Karang Taruna

Sementara itu, Plt Bupati Ponorogo, Lisdyarita, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, memberikan apresiasi atas produktivitas petani Desa Glinggang serta semangat masyarakat dalam melestarikan tradisi. Ia menyebut, capaian pertanian Kabupaten Ponorogo yang masuk dalam 10 besar penghasil padi di Jawa Timur menjadi kebanggaan tersendiri bagi daerah.

“Ini merupakan prestasi yang patut kita banggakan bersama. Artinya, kerja keras para petani kita selama ini membuahkan hasil yang luar biasa,” kata Lisdyarita.

Lisdyarita menilai bahwa kegiatan Methik Pari di Desa Glinggang tidak hanya mempertahankan nilai budaya, tetapi juga mulai mengadopsi modernisasi dalam sektor pertanian. Hal ini terlihat dari penggunaan teknologi seperti drone untuk penyemprotan, mesin tanam, hingga alat panen modern combine harvester.

Menurutnya, inovasi tersebut menjadi langkah strategis untuk menjawab tantangan regenerasi petani yang saat ini didominasi usia lanjut. Dengan sentuhan teknologi, diharapkan generasi muda semakin tertarik untuk terjun ke dunia pertanian.

“Dengan adanya teknologi, bertani sekarang sudah lebih modern dan menjanjikan. Ini penting untuk menarik minat para milenial agar mau kembali ke sawah,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *