Sumber Air Gratis Rusak Total: Jeritan Warga Nrogung Menuntut Tanggung Jawab Raksasa Geotermal 

Beritatrends, Ponorogo – Di balik deru mesin dan mobilitas alat berat proyek energi geotermal di Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo, tersimpan cerita pilu dari sudut Desa Ngrogung. Sebuah lahan pribadi yang selama bertahun-tahun menjadi urat nadi kehidupan masyarakat kini kondisinya luluh lantak. Lahan yang di dalamnya memancarkan mata air bersih untuk puluhan keluarga itu rusak parah, tergilas oleh roda-roda kendaraan proyek yang melintas tanpa permisi yang layak. Tak hanya tanah yang terkoyak, jaringan pipa paralon yang mengalirkan kehidupan ke rumah-rumah warga pun kini pecah berantakan.

Sabtu siang (31/10/2026), Arista Hidayatul Ramansyah berdiri di atas tanah yang becek dan rusak itu. Matanya menatap nanar ke arah tumpukan pipa paralon yang hancur. Tanah ini bukan sekadar properti biasa, ini adalah tanah warisan kakeknya. Di atas tanah inilah, sang kakek mengizinkan mata air murni di dalamnya dialirkan secara cuma-cuma demi menghidupi 15 hingga 20 kepala keluarga di sekitarnya. Sebuah ketulusan yang kini tertimbun oleh ego pembangunan modern.

“Ini tanah pribadi milik mbah saya yang dilalui untuk mobilitas geotermal. Akibatnya, sumber air rusak. Tanah ini kami manfaatkan sebagai sumber air dan airnya saya salurkan kepada masyarakat tanpa memungut biaya,” kenang Arista dengan nada suara yang bergetar antara sedih dan geram.

Bagi warga Ngrogung, air adalah segalanya. Ketika pipa-pipa itu pecah, rutinitas harian belasan keluarga langsung lumpuh. Pihak proyek memang sempat melakukan perbaikan, namun alih-alih menyelesaikan masalah, tindakan tersebut justru menyumbat dan mematikan fungsi sumber air sepenuhnya. Bagi warga, itu bukanlah solusi, melainkan kepasrahan yang dipaksakan.

Kesabaran warga kini mulai habis. Komunikasi yang dibangun selama ini hanya berujung pada janji-janji manis yang menguap di udara. Hingga detik ini, belum ada satu pun perwakilan perusahaan yang datang menunjukkan itikad baik untuk duduk bersama warga terdampak.

Baca Juga  TMMD 129 Masuk Desa Bulu Lor Babinsa Punya Peran Ganda 

Arista dan warga Nrogung kini tak mau lagi disuapi janji lisan. Mereka menuntut ketegasan hitam di atas putih melalui Memorandum of Understanding (MoU) yang mengikat. Jika korporasi di balik proyek geotermal ini terus bersembunyi di balik tembok korporat mereka dan mengabaikan kerusakan lingkungan yang mereka perbuat, warga siap mengambil langkah ekstrem. Jalur hukum, baik pidana maupun perdata, kini menjadi senjata terakhir yang siap mereka layangkan ke meja hijau. Sebab bagi mereka, menjaga sumber air ini bukan lagi sekadar membela hak milik, melainkan mempertahankan napas kehidupan seluruh desa.

Sampai saat ini, keheningan masih menyelimuti pihak perusahaan, menyisakan tanya dan amarah warga yang terus mengalir seperti air yang kini tersumbat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *