Cerita Suka Duka Tim Gugus Tugas COVID-19 di Magetan Selama Pandemi

Cerita Suka Duka Tim Gugus Tugas COVID-19 di Magetan Selama Pandemi

Ari Budi Santosa, Sekretaris Gugus Tugas Covid-19 Magetan

Beritatrends, Magetan – Sudah hampir dua tahun lamanya petugas Satgas Covid-19 bertugas sejak mulai mewabahnya virus corona di tanah air.

Pembentukan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 yang terdiri dari petugas gabungan mulai dari tenaga kesehatan, aparat Kepolisian, TNI, Satuan Polisi Pamong Praja, Dinas Perhubungan dan BPBD Magetan ini sebagai reaksi cepat yang dilakukan Pemerintah Daerah dalam mencegah penularan Covid-19.

Dimarahi bahkan diacuhkan menjadi santapan sehari-hari bagi Tim Gugus Tugas Covid-19 Pemerintah Kabupaten Magetan sejak wabah virus tersebut merebak diberbagai daerah.

Sebagian orang mungkin menganggap sepele pekerjaan mereka, bahkan terlihat sepertinya mereka tidak melakukan apa-apa, padahal merekalah yang berhadapan langsung dengan bahaya yang melakukan penanganan pertama agar virus corona tidak masuk ke Magetan.

Tugas mereka melakukan deteksi awal dengan mengukur suhu badan terhadap setiap kegiatan masyarakat, dan tentu saja ancaman mereka terinfeksi virus corona terbuka lebar.

Banyak suka duka yang dialami, kata Ari Budi Santosa, Sekretaris Gugus Tugas Covid-19 Magetan dalam menjalani tugas selama pandemi ini. Pasalnya Gugus Tugas telah berhasil membawa kabupaten Magetan ke level 1 penanganan Covid-19.

“Sekarang ini sudah longgar, saya waktunya pulang kerja ya pulang, walaupun malamnya masih patroli disini, tapi sudah sangat-sangat longgar, berbeda dengan saat awal pandemi,” ungkapnya, Jumat (4/2/2022).

Walau tidak mengeluh saat menjalankan tugas, namun Ari Budi juga tetap merasakan duka ketika terjadi puncak Covid-19 di Magetan, dengan jumlah kematian saat itu mencapai 35-40 orang perhari, dan terjadi kebutuhan banyak stok oksigen.

“Dukanya lagi ketika banyak yang meninggal, kita itu sering dicemooh dipojok kan, sering sering sekali, karena mungkin dianggap pelayanannya tidak memuaskan,” imbuhnya.

Kurangnya tenaga serta kurangnya pemahaman dari masyarakat, menjadikan kendala dalam menjalankan tugas terutama untuk membagi waktu saat membludaknya kasus Covid-19 di Magetan.

Permasalahan dinilai warga saat itu dari lamanya penanganan ketika ada yang meninggal dikarenakan Covid-19, Edukasi dilakukan kepada masyarakat untuk mengatasi permasalahan tersebut.

“Semisal ada kasus di desa tertentu, harus ada tenaga dari desa tidak kurang dari 2 orang,” jelas Ari Budi.“sehingga sekarang ini jarang sekali kita turun kelapangan ketika ada yang meninggal disebabkan oleh Covid-19 karena sekarang masyarakat telah teredukasi” jelasnya.

Ada beberapa kejadian ‘lucu’ saat awal Covid-19, salah satunya yang dialami oleh Ari sebagai anggota Satgas Covid-19 di Magetan, saat pernyataan dari Gubernur Jawa Tengah pada saat itu Ganjar Pranowo bahwa adanya warga Magetan yang ber-KTP di Solo terkena Covid-19, sedangkan pihaknya belum tau Covid-19 itu penyakit yang seperti apa, penanganannya bagaimana, sehingga saat melakukan sterilisasi disinfektan.

Terdapat juga beberapa anggota yang izin untuk tidak ikut melakukan sterilisasi dikarenakan APD yang belum mumpuni sepeti sekarang, tetapi pada akhirnya semua anggota kompak menjalankan sterilisasi tersebut karena susah kewajiban kita.

Ke’lucuan’ juga terjadi saat pertama kali pemakaman Covid-19 saat itu, walaupun di jalanin dengan gemetar, setelah pemakaman selesai,“disinfektan tidak hanya di gunakan untuk membersihkan tangan, bahkan digunakan untuk mandi,” kata Ari Budi.

Tidak hanya itu, bahkan dari perangkat desa dan modin yang mengurus pemakaman banyak yang lari, hingga saat ini kita memiliki modin sendiri.

Bahkan sempat terjadi juga dibakarnya APD setelah melakukan pemakaman tersebut.

Pada awal-awal Covid-19 banyaknya penolakan dari keluarga untuk penanganan korban Covid-19 di makamkan sesuai dengan prokes. “kita edukasi, lama-lama tau,” ungkapnya.

Karena sudah terbiasa menangani perawatan Covid-19 selama ini, masih lata Ari Budi Santosa, menangani pemakaman korban Covid-19 tidak sesuai SOP seperti di rumah sakit tetapi sesuai dengan agama kepercayaan korban Covid-19 itu.

“Jika agamanya Islam ya kita lakukan sesuai dengan syariat agam islam. Yang penting bagi kami, menggunakan APD lengkap sesuai prokes. Kenyataanya teman-teman yang bertugas tidak ada yang terpapar,” ungkapnya.

Pos terkait