Deretan Keracunan MBG Menumpuk, SPPG Tak Profesional Jadi Biang Kerok, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Beritatrends.co.id, Magetan – Program Makan Bergizi (MBG) yang seharusnya menjadi harapan gizi anak bangsa, justru menyisakan deretan luka panjang dan daftar panjang kejadian memilukan di sepanjang tahun 2026. Dari ujung barat hingga timur, ribuan nama tercatat menjadi korban dugaan keracunan, mulai dari Semarang, Grobogan, Mojokerto, hingga daerah-daerah lain yang mencatat angka ratusan bahkan ribuan penderita. Angka yang tercatat itu bukan sekadar statistik dingin, melainkan tanda nyata adanya kelalaian besar yang berulang terus-menerus, Senin (7/9/2026)

 

Di tengah polemik panjang ini, muncul suara tajam yang menohok ke ranah pelaksana teknis. Sofandi menegaskan bahwa meski aliran dana MBG dinilai membawa dampak positif bagi perputaran ekonomi masyarakat seperti petani sayur, petani padi yang ikut menikmati hasil dengan harga yang relatif stabil namun sisi gelap keracunan tidak bisa dibiarkan begitu saja.

 

“Kasus keracunan ini jelas-jelas ranah SPPG yang harus dibenahi dan bertanggung jawab penuh,” tegas Sofandi tanpa ragu. Ia menyindir tajam kinerja para penyelenggara yang dianggap tidak profesional, jauh dari syarat layanan yang layak.

 

“Memang dasarnya bukan orang katering atau tak paham soal pelayanan pangan, tapi berani mengerjakan tugas berat ini. Mana mungkin hasilnya bagus?” sindirnya.

 

Ini menjadi bukti nyata lemahnya penyaringan dan pengawasan. Pertanyaannya kemudian menggantung di udara, Tugas siapa sebenarnya ini? Mengapa ketidaklayakan ini dibiarkan berlangsung lama dan meluas ke mana-mana?

 

Lebih jauh, ia menuntut “para wali rakyat” dan para pihak yang berkewajiban mengawasi untuk tidak tutup mata. Pengawasan harus dilakukan secara ketat, menyeluruh, dan tidak boleh ada kompromi. Jangan sampai program mulia ini justru menjadi bencana bagi anak-anak karena diserahkan kepada tangan yang tidak kompeten.

Baca Juga  Pemilihan Duta GenRe Kabupaten Magetan Tahun 2022

 

Sofandi mengakui aliran dana program ini membawa manfaat ekonomi bagi petani sayur dan padi, harga kacang panjang, timun, sawi dan lainnya menjadi lebih stabil, namun manfaat ekonomi tak bisa menutupi risiko nyawa dan kesehatan anak.

 

“Jika ada praktik buruk, meski diklaim separuh dana beredar baik, sisa yang mencapai ratusan triliun tak boleh bocor atau terabaikan kualitasnya,” tambahnya.

 

Kini publik menagih janji, Siapakah yang berani mempertanggungjawabkan ribuan korban ini? Apakah SPPG yang tak profesional ini akan dibiarkan terus melukai kepercayaan rakyat? Atau pengawas benar-benar bekerja menghentikan malpraktik ini?

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *