Mbulan Ndhadhari Episode 9 diisi Bedah Buku ‘Antuk Amanah Bupati Magetan’

Bedah Buku ‘Antuk Amanah Bupati Magetan’

Beritatrends, Magetan – Pemerintah Kabupaten Magetan melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan kembali menggelar acara “Mbulan Ndhadhari”, di Pendopo Surya Graha, Sabtu (21/1/2023) malam. Pada episode 9 kali ini, acara tersebut diisi dengan Bedah Buku Bupati, yakni buku terbitan terbaru menjelang akhir tahun 2022 yang berjudul “Antuk Amanah Bupati Magetan”.

Secara umum, buku berjumlah 170 halaman ini ditulis pada bulan Oktober tahun lalu, dalam jangka waktu satu bulan, untu mengisi waktu luang selama Bupati mengalami cedera kaki. Yang kemudian menarik adalah bahwa buku tersebut ditulis sendiri oleh Bupati Suprawoto secara penuh menggunakan bahasa Jawa.

“Buku ini sengaja saya tulis menggunakan bahasa Jawa, karena saya bukan siapa-siapa. Kalau ditulis bahasa Indonesia pasti tidak ada yang baca karena tidak unik. Buku ini saya tulis sebulan selama saya sakit dan ditulis apa adanya, tidak ada yang ditutupi,” terang Bupati.

Adapun yang melatarbelakangi beliau untuk menulis buku yakni karena selalu mengingat kutipan dari Sastrawan besar, Pramoedya Ananta Toer, bahwa ‘Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian’.

Lebih lanjut, terkait dengan buku “Antuk Amanah Bupati Magetan”, Suprawoto mengaku meletakkan dasar kepenulisan bahwa pejabat publik harus bertanggung jawab pada rakyatnya.

“Sebagai pejabat publik, kewajiban saya mempertanggungjawabkan apa yang saya lakukan dan apa yang melatarbelakanginya. Semuanya saya ceritakan disana,” ungkapnya.

Kemudian, buku tersebut juga dibedah oleh beberapa narasumber, diantaranya Narko Sodrun Budiman (Pimpinan Sanggar Triwida Tulungagung), Sutejo (Pegiat Literasi dari Ponorogo), dan Tulus Setiyadi (Pimpinan Rumah Budaya Tulus Setiyadi).

Salah satu pegiat literasi, Sutejo, menilai bahwa Bupati menulis karena panggilan hidup. Menurutnya, hal tersebut dilakukan sebagai bentuk mendokumentasikan gagasan dan pemikiran bahwa eksistensinya sebagai Bupati Magetan adalah ada, nyata, dan akan tercatat dalam sejarah.

“Setelah membaca saya nikmati, beliau hanya nulis apa yang dialami, dilakukan, dipikirkan, dan diimpikan, semuanya ditulis, yakni berkaitan dengan kepemimpinan sebagai Bupati berikut dalam implementasi di ragam bidangnya masing-masing,” kata Sutejo.

Nantinya, buku ‘Antuk Amanah Bupati Magetan’ diharapkan dapat mengisi ruang kosong bahasa Jawa dan menjadi bahan bacaan para murid sekolah di Magetan.

Pos terkait